Devan berdiri di seberang gerbang kampus sejak hampir satu jam lalu. Jaketnya sudah tidak rapi, rambutnya acak-acakan, dan sorot matanya jelas bukan sorot orang yang sedang baik-baik saja. Sjetiap mahasiswa yang lewat dia perhatikan, berharap satu wajah tertentu muncul di antara kerumunan. Dan akhirnya… Vania. Gadis itu keluar dari gedung fakultas dengan tas diselempangkan di bahu, wajahnya terlihat lelah tapi tetap tenang. Dia berjalan sambil menunduk sedikit, fokus ke ponselnya. Tidak tahu—atau mungkin tidak ingin tahu—bahwa seseorang sedang menunggunya dengan penuh amarah yang dipendam. “Vania!” Suara itu membuat langkah Vania terhenti sepersekian detik. Jantungnya seperti langsung ditekan dari dalam. Dia mengenal suara itu. Terlalu kenal. Namun alih-alih menoleh, Vania justru mem

