Vania menutup pintu kamar Jevan pelan-pelan, memastikan tidak ada suara yang bisa memancing kecurigaan. Langkahnya ragu sesaat sebelum akhirnya mendekat ke sisi ranjang. Jevan yang sejak tadi bersandar dengan punggung ke sandaran rannjang menurunkan ponselnya, menatap Vania dengan ekspresi yang langsung berubah lebih serius dari biasanya. “Ada apa?” tanya Jevan, nadanya rendah. Vania tidak langsung duduk. Dia berdiri, kedua tangannya saling menggenggam, seperti sedang menimbang kata-kata yang tepat. Wajahnya terlihat tegang, jauh dari ceria yang biasanya ia tunjukkan. “Aku mau nanya,” ucap Vania akhirnya. “Dan aku pengin Papa jawab jujur.” Alis Jevan sedikit terangkat. “Tanya apa?” Vania menarik napas dalam-dalam. “Soal Devan.” Nama itu membuat rahang Jevan mengeras nyaris tak terlih

