Bab 68

1086 Kata

Tali itu melilit tubuh Vania dengan kasar. Bukan sekali, tapi berkali-kali. d**a, perut, lalu lengannya ditarihk ke belakang sandaran kursi kayu tua yang sudah berderit sejak awal disentuh. Kursi itu bergeser sedikit setiap kali pria suruhan Devan menarik tali lebih kencang. Vania meringis, bukan karena sakit yang berlebihan, tapi karena rasa terhina. Nafasnya memburu, dadanya naik turun cepat. “Cukup,” suara Devan terdengar malas. “Jangan sampai dia pingsan. Aku masih mau ngobrol.” Pria itu mundur. Tali terakhir dikencangkan, lalu langkah kaki menjauh. Vania mengangkat wajahnya. Rambutnya sedikit berantakan, tapi matanya tetap menantang. Tidak ada air mata. Tidak ada kepanikan yang ingin ia tunjukkan. “Lepaskan aku, Devan,” ucapnya dengan suara serak tapi tegas. “Kamu nggak akan lolo

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN