Pintu gudang tua itu terhempas keras sampai membentur dinding berkarat. Suaranya menggema, memantul di ruang kosong yang selama ini cuma diisi debu dan kebusukan waktu. Lampu bohlam yang tadi berkedip langsung mati sesaat karena getaran keras itu. Devan refleks menoleh. Wajahnya menegang seketika saat sosok yang paling tidak ingin ia lihat berdiri di ambang pintu. Jevan. Tatapan lelaki itu dingin, tenang, tapi mematikan. Bukan tatapan orang yang datang untuk bejrdebat. Itu tatapan orang yang datang untuk mengakhiri sesuatu. “Sialan…” Devan menggeram pelan. Dalam sepersekian detik, naluri Devan bekerja lebih cepat dari amarahnya. Ia tahu, jika dia terlambat satu detik saja, malam ini akan jadi akhir segalanya. Devan berbalik dan berlari ke arah pintu belakang gudang, menabrak meja tu

