Siang itu rumah terasa lebih sepi dari biasanya. Jelita sedang di kampus, Jevan masih di kantor, dan pelayan sibuk di bagian belakang rumah. Di ruang keluarga, Vania duduk sendirian dengan posisi setengah bersandar, satu tangan mengusap perutnya yang semakin berat. Ia baru saja selesai membaca beberapa artikel tentang kehamilan, mencoba mengalihkgan pikirannya dari kejadian beberapa hari terakhir. Namun suasana tenang itu tidak bertahan lama. Ting tong. Bel rumah berbunyi. Vania mengangkat kepala. “Siapa lagi…” gumamnya pelan. Ia menoleh ke arah dapur. Tidak ada yang menjawab. Pelayan jelas masih di belakang. Bel berbunyi lagi. Ting tong. Vania menghela napas panjang. Dengan hati-hati ia berdiri, menopang tubuhnya, lalu berjalan pelan menuju pintu depan. Langkahnya tidak cepa

