Bab 147

819 Kata

Sore itu rumah kembali terasa hangat. Cahaya matahari yang mulai condong masuk melalui jendela besar ruang keluarga, memantul lembut di lantai dan sofa. Setelah pulang dari restoran bersama Jelita, suasana hati Vania memang terlihat jauh lebih baik. Wajahnya tidak lagi setegang pagi tadi, meskipun sesekali ia masih terlihat lelah. Vania berjalahn pelan dari arah dapur menuju ruang keluarga. Langkahnya benar-benar hati-hati. Satu tangan menopang punggungnya. Tangan lainnya memegang perutnya yang semakin berat. Setiap langkah terasa lebih lambat dari biasanya. “Kenapa sih rasanya makin berat…” gumamnya pelan. Ia sampai di depan sofa. Lalu berhenti. Menatap sofa itu beberapa detik. Seolah sedang mempertimbangkan sesuatu yang sangat serius. Duduk. Atau tetap berdiri. “Aduh…” ia me

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN