Pagi itu rumah masih terasa tenang, namun bukan ketenangan yang benar-benar damai. Lebih seperti jeda setelah sesuatu yang berat terjadi. Cahaya matahari masuk dari jendela, tapi tidak cukup untuk menghapbus suasana yang tertinggal sejak malam sebelumnya. Jelita berdiri di depan pintu kamar Vania. Tangannya sempat terangkat untuk mengetuk. Namun ia ragu. Ia sudah mendengar semuanya. Dari pelayan. Dari Vania sendiri yang semalam bercerita dengan suara pelan. Dari cara Papa pulang dengan wajah yang tidak biasa. Dan dari mata Vania yang merah karena menangis. Jelita mengepalkan tangannya pelan. “Kurang ajar,” gumamnya. Ia benar-benar tidak suka. Bukan sekadar tidak suka. Ia marah. Sangat marah. Karena satu hal yang tidak pernah berubah sejak dulu… Vania tetap sahabatnya. Wala

