Bab 145

915 Kata

Perjalanan pulang terasa jauh lebih sunyi dari biasanya. Tidak ada percakapan ringan seperti malam-malam sebelumnya. Tidak ada tawa kecil Vania yang biasanya muncul tanpa alasayn. Hanya suara mesin mobil dan napas yang sesekali terdengar berat dari kursi penumpang. Vania duduk diam. Tangannya masih berada di atas perutnya, jemarinya menggenggam kain gaunnya pelan. Matanya menatap ke depan, tapi pikirannya masih tertinggal di ballroom itu. Kata-kata itu… tatapan itu… semuanya masih berputar di kepalanya. Jevan meliriknya beberapa kali. Ia tahu istrinya sedang berusaha menahan diri. Dan itu justru membuat hatinya semakin tidak tenang. Mobil akhirnya masuk ke halaman rumah. Gerbang tertutup kembali. Mesin dimatikan. Namun tidak ada yang langsung turun. Beberapa detik mereka hanya

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN