Pagi itu datang pelan, tidak tergesa, seolah ikut mhenghormati malam panjang yang baru saja mereka lewati. Vania terbangun lebih dulu. Matanya terbuka perlahan, pandangannya langsung dipenuhi oleh sosok Jevan yang masih terlelap. Lengan lelaki itu melingkar di pinggangnya, erat tapi hangat, seakan takut kehilangan. d**a Jevan naik turun teratur, napasnya tenang. Tidak ada raut keras, tidak ada garis dingin di wajahnya seperti biasanya. Dalam tidur, Jevan terlihat jauh lebih manusiawi. Lebih lembut. Vania diam beberapa detik, hanya memandangi wajah itu. Ada rasa aneh di dadanya. Campuran lega, sayang, dan sesuatu yang lebih dalam yang berusaha ia tekan sejak lama. Pelan-pelan, Vania menggeser tubuhnya. Ia berhati-hati, tidak ingin membangunkan Jevan. Lengan itu akhirnya terlepas, meski

