Jelita menjatuhkan tasnya ke sofa begitu saja, lalu ikut duduk di samping Vania tanpa izin. Lututnya dinaikkan ke atas sofa, tubuhnya sedikit meringkuk seperti anak kecil yang sedang menyimpan rahjasia besar. Senyum di wajahnya aneh. Bukan senyum biasa. Ada gugup, ada senang, ada malu yang terlalu kentara. Vania mematikan volume televisi, menoleh penuh selidik. “Kenapa senyummu kayak habis mencuri permen?” tanyanya santai, tapi matanya tajam. Jelita tertawa kecil, menutup wajahnya sebentar dengan kedua tangan, lalu mengintip dari sela-sela jarinya. “Aku… malu.” “Wah,” Vania mendengus pelan. “Kalau kamu sudah sampai tahap malu-malu begini, berarti serius. Kamu lakuin apa?” Jelita menurunkan tangannya. Pipinya memerah. “Aku jadian.” Vania membeku satu detik. “Hah?” “Jadian,” ulang Jel

