Malam minggu itu datang dengan suasana yang jauh lebih ringan dibanding hari-hari sebelumnya. Tidak ada pesta mewah, tidak ada pembicaraan soal konser, tidak ada negosiasi angka puluhan juta. Hanya udara malam yang lembut dan langit kota yang tidak terlalu penuh bintang, tapi cukup indah untuk dinikmati. Jevan yang mengajak lebih dulu. “Kita keluar,” katanya sore itu sambil berdiri di depan Vania yang sedang duduk santai di ruang keluarga. “Ke mana?” tanya Vania. “Taman kota.” Vania mengangkat alis. “Serius?” “Iya.” “Kamu tidak malu? CEO makan di taman?” Jevan tersenyum tipis. “Papa bukan CEO 24 jam. Kadang Papa cuma suami yang mau ajak istrinya jalan.” Kalimat itu sederhana, tapi membuat Vania tersenyum tanpa sadar. Malam itu Vania mengenakan dress longgar warna biru muda dan sa

