Siang itu rumah terasa biasa saja. Tidak ada firasat apa-apa. Vania sedang duduk di ruang keluarga dengan laptop di pangkuannya, pura-pura mengerjakan tugas tapi lebih sering berhenti untuk mengusap perutnya yang mulai terasa berat. Jelita ada di kamar, katanya mau menyelesaikan presentasi. Jevan sedang di rumah hari itu, mengambil waktu setengah hari sebelum kembali ke kantor sore nanti. Bel rumah berbunyi. Satu kali. Pendek. Jevan yang paling dekat dengan pintu langsung berdiri. “Siapa siang-siang begini?” gumamnya pelan. Ia membuka pintu tanpa prasangka. Dan ekspresinya langsung berubah datar. Andrew berdiri di depan pagar. Kemeja rapi, wajah terlihat lebih serius dari biasanya. Tidak ada senyum santai seperti saat di kampus. Beberapa detik mereka hanya saling menatap. “Ada apa

