Sore itu cahaya matahari mulai miring, menyentuh kaca-kaca gedung tinggi di luar jendela ruang kerja Jevan. Suasana kantor mulai lebih lengang. Beberapa karyawan sudah bersiap pulang, suara pintu lift sesekali terdengar terbuka dan tertutup. Vania berdiri perlahan dari sofa, mengusap perutnya yang terasa hangat. Ia baru saja selesai menghabiskan air putih kedua. Perutnya tidak lapar sepenuhnya, tapi pikirannya mulai melayang hke satu hal yang tiba-tiba muncul begitu saja. “Jevan,” panggilnya pelan. Jevan yang sedang membaca email di layar laptop langsung menoleh. “Hm?” “Aku mau makan batagor.” Jevan tidak langsung menjawab. Ia hanya menatap istrinya beberapa detik, memastikan ia tidak salah dengar. “Sekarang?” tanyanya tenang. “Iya.” “Batagor?” “Iya.” Bukan restoran mahal. Bukan

