Bab 119

3099 Kata

Es krim hampir habis ketika semuanya berubah. Vania baru saja menyeka sisa cokelat di sudut bibirnya dengan tisu. Jelita sedang menatap kosong ke luar jendela, sendok kecilnya berhenti di udara. Awalnya hanya siluet. Seorang pria berjalan santai di trotoar depan kedai. Lalu semakin jelas. Kaos hitam yang familiar. Cara berjalan yang terlalu dikenalnya. Andrew. Jelita membeku. Napasnya terhenti di d**a. Vania yang melihat perubahan ekspresi itu langsung menoleh. “Kenapa?” Jelita tidak menjawab. Andrew tidak sendirian. Di sampingnya, seorang wanita dengan rambut panjang tergerai. Tangan mereka saling menggandeng. Bukan jarak sopan. Bukan sekadar teman berjalan. Menggandeng. Jelas. Tanpa ragu. Seolah semalam tidak ada apa-apa. Seolah tangisan semalam tidak pernah terjadi. Se

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN