Vania menuruni tangga perlahan. Lampu ruang tengah tidak terlalu terang, cukup membuat bayangannya jatuh lembut di lantai marmer. Ia mengenakan baju rumahan yang lebih berani dari biasanya, bukan terbuka berlebihan, tetapi cukup melekat di tubuh dan membuat perubahannya jelas terbaca. Rambutnya tergerai, wajahnya tanpa make up tebal, hanya natural seperti kesehariannya di rumah. Di ruang tengah, Jevan duduk menonton televisi. Mira duduk di sampingnya, terlalu dekat menurut Vania. Di tangan Mira ada mangkuk kecil berisi snack. Perempuan itu sesekali mengambil isinya dan menyodorkannya ke arah Jevan dengan santai, seolah itu hal paling wajar di dunia. Dada Vania mengencang. Ia berhenti sejenak di anak tangga terakhir, menatap pemandangan itu tanpa berkedip. Ada rasa panas di perutnya, cam

