Bab 140

1872 Kata

Malam mulai turun perlahan di rumah besar itu. Lampu ruang makan sudah dinyalakan, memantulkan cahaya hangat di atas meja panjang yang mulai dipenuhi piring dan mangkuk. Aroma masakan yang baru saja selesai dimasak menyebar dari dapur ke seluruh ruangan. Vania berdiri di sisi meja makan sambil membantu pelayan mvenata piring. Gerakannya pelan karena perutnya yang sudah besar, tapi ia tetap ingin ikut membantu. Sesekali ia memegang punggungnya ketika terasa sedikit pegal, lalu kembali merapikan sendok atau memindahkan mangkuk sup ke tengah meja. “Taruh yang itu di sini saja,” katanya lembut pada pelayan. “Iya, Nyonya,” jawab pelayan itu. Vania tersenyum kecil. Ia tidak pernah benar-benar terbiasa dipanggil “Nyonya”. Kadang masih terasa aneh, tapi ia juga tidak terlalu memikirkan hal it

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN