Malam itu rumah kembali dipenuhi cahaya lampu ruang tamu yang hangat. Vania sedang duduk di sofa sambil mengusap perutnya yang terasa sedikit berat setelah makan malam. Jevan duduk di kursi di seberangnya sambil membaca beberapa dokumen pekerjanan yang ia bawa pulang dari kantor. Sementara Jelita berdiri di dekat tangga dengan ponselnya, tetapi jelas pikirannya tidak sepenuhnya berada di layar. Sejak siang tadi suasana hatinya sudah tidak tenang. Ia masih memikirkan kedatangan Andrew. Bukan karena ia senang lelaki itu datang, tapi karena semuanya terasa terlalu rumit. Dan Vania dengan santainya menceritakan semuanya saat Jelita pulang. “Dia datang bawa kue,” kata Vania tadi dengan nada ringan. Jelita langsung menutup wajahnya dengan tangan. “Kenapa kamu biarkan dia masuk?” “Dia sop

