Entah kenapa Ishan sampai tega berkata-kata yang merendahkan dirinya sampai seperti itu. Apa pria ini memang ingin membalas dendam kepadanya? Kepala Iresh rasanya seperti ada yang memukulnya dengan benda tumpul. Emosinya langsung naik ke permukaan dan bersiap untuk meluap. Ingin rasanya dia menampar mulut pria itu dengan sekeras-kerasnya agar Ishan bisa lebih menghargai perempuan karena tidak semua perempuan bisa dia rendahkan seperti ini. “Kamu …! Apa kamu nggak punya etika saat sedang berbicara dengan seorang perempuan, hah? Asal kamu tau, jangan pernah kamu samakan aku dengan para jalangg mu yang biasa memuaskan hasratmu,” desis Iresh dengan raut wajah yang sudah terlihat merah padam karena menahan emosinya agar tidak sampai meledak-ledak. Bahkan, tanpa sadar air matanya mulai men

