Sore harinya. Adrian turun ke lobi kampus dengan niat sederhana: membeli kopi. Biasanya, aroma robusta dari kedai kecil di sudut lobi cukup untuk mengembalikan tenaganya setelah seharian mengajar dan berpura-pura baik-baik saja. Tapi langkahnya terhenti. Tepat di dekat sofa kampus, dua mahasiswa duduk sambil menggulir ponsel, tangan mereka sibuk dengan minuman kekinian, tapi mulut tak berhenti bergosip—suara mereka cukup lantang untuk menembus ruang personal siapa pun yang lewat. “Eh lo denger nggak sih?” ujar yang satu, dengan nada excited. “Katanya Nayla dijodohin ama anak pengusaha gede gitu.” Adrian spontan menoleh. “Seriusan?” tanya yang lain sambil mengunyah permen karet. “Iya. Rendy Hutama. Anak orang kaya. Keluarga elite katanya. Cewek secantik Nayla wajar lah dapet jodoh ta