Ia ingin membalas. Sangat ingin. Tapi ... apa yang harus ia tulis? “Aku lagi dijodohin karena utang Ayah.” “Aku nggak mau ninggalin kamu, tapi aku juga nggak tahu harus gimana.” “Kalau aku milih kamu, Ayah bisa dipenjara.” Tidak ada versi dari kalimat itu yang tidak menyakitkan. Tidak ada cara untuk jujur tanpa menggores. Tidak ada kalimat yang cukup aman untuk menyampaikan kenyataan yang terlalu kejam untuk disebutkan dalam satu paragraf chat. Nayla menunduk. Kakinya menggoyang-goyangkan daun kering. Jari-jarinya menari di atas layar, lalu menghapus. Mengetik. Menghapus lagi. Bagaimana bisa ia memilih dirinya sendiri, kalau harga yang harus dibayar adalah hancurnya keluarganya? Tapi bagaimana bisa ia terus berkorban, kalau artinya kehilangan satu-satunya orang yang membuatnya m