Tiket ke Jepang

1113 Kata

Ponselnya tergeletak di atas meja kecil, diam. Di sebelahnya, secangkir kopi yang sudah lama dingin. Ia tak menyentuhnya. Seperti hatinya yang tak bisa lagi disentuh oleh hal-hal sederhana. Adrian menatap kosong ke langit. Tapi pikirannya jauh lebih gelap daripada malam itu. Akhirnya, ia bangkit perlahan. Masuk ke dalam apartemen dan duduk di depan laptop. Jemarinya mulai menari di atas keyboard, pelan, ragu-ragu, tapi penuh kesadaran. Ia membuka email barunya—bukan draft lama dari Nayla, karena ia memang tidak pernah menerima itu. Hanya layar kosong, dan kata-kata dari hatinya sendiri. “Aku nggak mau pergi. Tapi kalau bertahan di sini cuma bikin kamu makin susah … aku akan pergi. Tapi bukan karena aku berhenti sayang.” Ia menatap tulisan itu lama. Ia tahu—kata-kata itu tak akan per

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN