Rayyan menggeser tombol hijau pada layar ponselnya.
“Ya Ga..”
“.............”
“Apa?!”
Rayyan merasa seolah oksigen di lorong itu baru saja dihisap habis. Di telinganya, suara Arga masih terdengar panik, menjelaskan jika foto-foto Sherly dan Rayyan saat di hotel itu telah menyebar, di beberapa akun portal bisnis dan gosip.
Tagline yang menyudutkan itu kini sudah menjadi konsumsi publik, menghancurkan reputasi yang ia bangun bertahun-tahun hanya dalam hitungan menit.
“Pak, ini serangan terstruktur. Akun-akun anonim itu terus bermunculan meski sudah kita report. Media bisnis mulai mempertanyakan stabilitas saham Adyatama karena skandal moral ini” lapor Arga cepat.
“Tahan semua pergerakan media, Arga! Saya tidak mau tahu caranya, tutup mulut mereka!” geram Rayyan sebelum mematikan telepon dengan tangan gemetar.
Namun, belum sempat ia menarik napas, suara isak tangis tertahan terdengar dari ujung lorong. Rayyan menoleh dan mendapati Alika sedang berdiri membelakanginya, menggenggam ponsel di telinganya.
“Bu... Alika mohon, Ibu tenang dulu. Ayah jangan sampai syok,” suara Alika bergetar, namun ia berusaha tetap tenang.
Rayyan terpaku. Ia tahu apa yang sedang terjadi. Orang tua Alika pasti sudah melihat berita sampah itu. Hati Rayyan mencelos ia merasa seperti pecundang yang menyeret gadis polos ke dalam kubangan kotornya.
“Ibu, dengarkan Alika, foto-foto itu tidak seperti yang terlihat. Mas Rayyan tidak mungkin melakukan itu. Dia pria yang baik, dia tidak akan mengkhianati pernikahan kami. Alika ada di sini, Alika tahu apa yang sebenarnya terjadi. Tolong percaya pada suami Alika, Bu. Jangan dengarkan omongan tetangga.”
Rayyan terpaku di posisinya. Dadanya berdesir hebat, sebuah rasa hangat yang asing menjalar di jantungnya yang selama ini dingin.
Ini adalah kali kedua. Kemarin, Alika membelanya di depan Bu Nilam saat Sherly datang membawa hasil USG palsu. Dan sekarang, di tengah rasa kecewanya yang mendalam, Alika justru menjadi benteng pertahanannya di depan kedua orang tuanya sendiri.
Setelah menutup telepon, Alika menyandarkan tubuhnya ke dinding, ia memejamkan mata dan menghela napas panjang. Saat ia menoleh, ia terkejut mendapati Rayyan sudah berdiri beberapa langkah darinya.
“Kenapa kamu melakukan itu, Alika? Kenapa kamu membelaku di depan orang tuamu padahal aku, tidak sebaik yang kamu ucapkan?”
Alika menatap Rayyan dengan tatapan jernih, meski sisa air mata masih menggantung di sudut matanya.
“Karena waktu kamu menyebut namaku saat ijab qobul tiga bulan lalu, namaku sudah terikat dengan namamu. Menjatuhkanmu di depan orang tuaku hanya akan membuat mereka mati karena malu. Aku membela harga diri keluargaku, Mas. Bukan hanya membelamu.”
Rayyan melangkah mendekat, jarak mereka kini hanya tinggal satu jengkal.
“Tapi kamu tahu berita itu... foto itu...”
“Aku tahu Mas, berita ini sudah menyebar. Walaupun aku tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi antara kamu dengan wanita itu. Tapi.. Aku percaya, kamu tidak melakukan hal itu kan?” entah mengapa Alika menjadi yakin jika Rayyan tidak melakukan perbuatan tidak bermoral seperti itu.
Kata-kata Alika menghantam Rayyan lebih keras daripada pukulan fisik manapun. Ia merasa sangat malu. Wanita yang ia tuduh haus harta ini justru memiliki jiwa yang jauh lebih besar darinya.
Sementara itu, di sebuah kafe remang-remang, Sherly menatap layar ponselnya dengan senyum penuh kemenangan. Ia baru saja mengirim pesan kepada seseorang.
"Rencana kedua sukses. Foto-foto itu sudah jadi konsumsi nasional. Rayyan tidak akan bisa mengelak lagi.. Dan jangan lupa bayaran sisa kemarin belum kamu kirimkan ke rekeningku"
Sebuah pesan balasan masuk:
"Bagus. Sekarang saatnya rencana ketiga.. Itu bisa diatur, setelah kehancuran Rayyan Adyatama terlihat, saya akan kirimkan sisa nya berlipat-lipat"
Sherly menyesap minumannya, matanya berkilat licik. Ia tidak tahu jika sebenarnya ia hanya dimanfaatkan oleh keegoan seseorang.
***
Kantor Adyatama Group
Para wartawan sudah mengepung kantor, Arga terlihat sangat kewalahan, ia tahu bagaimana bos nya ia tidak mungkin terus-terusan menghubungi Rayyan di saat seperti ini, yang ada ia akan kena semprot Rayyan.
Ia berusaha semaksimal mungkin menangani ini semua, ia masih mencari informasi siapa dalang dari semua ini, ia pun masih mencari tahu Sherly, di sisi lain ia pun harus berjibaku dengan tim IT perusahaan untuk mentakedown semua berita yang beredar.
Arga berdiri dari lantai 21 ruangan bos nya, menatap kekacauan itu dengan peluh yang membasahi dahi. Ponsel di telinganya terasa panas karena sudah berjam-jam ia melakukan koordinasi tanpa henti.
Akhirnya setelah berkoordinasi dengan pihak keamanan Perusahaan dan pihak keamanan setempat, para awak media membubarkan diri.
“Sudah berapa banyak portal yang berhasil di-takedown?” tanya Arga kepada kepala tim IT melalui sambungan telepon.
“Baru sekitar 40%, Pak Arga. Masalahnya, setiap kali satu akun anonim kita tumbangkan, sepuluh akun baru muncul dengan masif. Ini serangan terencana menggunakan penyedia jasa buzzer profesional,” jawab suara di seberang sana dengan nada frustrasi.
Arga mengepalkan tangan. Ia menahan diri untuk tidak menghubungi Rayyan. Ia tahu Rayyan sedang berada di titik nadir, dan satu-satunya cara membantu bosnya adalah dengan cara menemukan siapa dalang dibalik semua ini.
Tidak lama Arga keluar ruangan bos nya, ia berjalan menuju ruang IT perusahaan.
Klik
Saat suara pintu terdengar terbuka dan menutup kembali, beberapa tim IT menoleh ke arah sumber suara.
"Bagaimana?" tanya Arga sambil berjalan menghampiri tim, yang masih fokus pada layar monitor.
“Pak Arga, bisa lihat ini? Sherly adalah kenalan Alex dan ia biasa menemani para bos minum-minum, kemungkinan besar dia ini hanya di suruh untuk membuat kegaduhan dan menghancurkan reputasi Pak Rayyan” ucap salah satu tim IT.
“Oke.. ada lagi?” sambung Arga.
“Saya menemukan jejak keuangan digital yang digunakan untuk membayar jasa buzzer ini. Alamat dompet digitalnya terafiliasi dengan sebuah perusahaan di Hongkong,” lapor staf IT tersebut.
Arga segera mencocokkan data perusahaan yang menjadi daftar pesaing bisnis yang pernah bersinggungan dengan Adyatama Group. Matanya menyipit, rahangnya mengeras saat sebuah nama muncul di layar monitornya.
“Laoban Co.”
“Sial,” umpat Arga. “Ternyata mereka.”
“Coba gali lagi informasinya” pinta Arga.
Disaat yang bersamaan, ponselnya bergetar, 3 buah video berdurasi masing-masing 20 detik, dikirim oleh pihak keamanan hotel ke ponselnya. Karena kejadian Rayyan di hotel itu sudah 2 bulan lalu sehingga pihak hotel harus mencari file rekaman cctv nya sesuai waktu yang diminta oleh Arga.
Arga membuka satu video terlihat saat Rayyan berbicara dengannya di lorong dekat pintu kamar hotel, Arga mengingat saat itu Rayyan berbicara kepadanya, jika dirinya sangat mengantuk dan akan segera beristirahat.
Di Video selanjutnya, sekitar 20 menit setelah Rayyan masuk kamar, ada seorang pria dan salah satu pegawai hotel membuka kamar Rayyan, menggunakan kartu akses darurat, setelah pintu kamar terbuka, petugas pergi sedangkan pria itu yang berperawakan tinggi tegap menggunakan masker hitam, masuk ke kamar Rayyan, tidak lama ia kembali keluar.
“Dari perawakannya, pria itu seperti Alex, ya itu pasti Alex.” guman Arga.
Arga lanjut membuka video ke tiga, dilihat dari waktu, sekitar dua jam kemudian, seorang wanita yang di pastikan Sherly datang dan masuk ke kamar Rayyan bersama pria itu, sekitar 30 menit di dalam kamar Rayyan mereka berdua kembali ke luar kamar.
“b******k kalian! Pak Rayyan dijebak! Ini pasti ulah Alex, tapi kenapa menyerang Pak Rayyan semasif ini” Arga masih terus bertanya-tanya, ia ingin mencari tahu sampai ke akar-akarnya.
❤️🔥❤️🔥❤️🔥