“Mbak.. itu.. ibu..” Bi Sus terlihat sangat panik.
“Hah.. Mama kenapa Bi?”
“Ibu pingsan Mbak”
Mata Rayyan membelalak setelah mendengar ucapan Bi Sus. Ia segera berlari keluar kamar menyusul Alika. Tanpa sepatah kata pun, keduanya berlari menuju ruang keluarga.
Di sana, Bu Nilam sudah terbaring di sofa dengan wajah pucat pasi.
“Mama!” teriak Rayyan.
Alika segera mendekat, ia langsung memeriksa denyut nadi di pergelangan tangan Bu Nilam dan mendekatkan telinganya ke d**a sang ibu mertua.
Ketenangan Alika dalam menghadapi situasi darurat kembali muncul, meskipun ia sendiri baru saja menangis dan berdebat hebat dengan Rayyan.
“Mas, bantu aku angkat kepala Mama sedikit. Berikan bantal,” perintah Alika tegas. Ia tidak lagi memikirkan konfliknya dengan Rayyan.
“Bi Sus, tolong ambilkan air hangat dan minyak kayu putih!”
Rayyan menurut bagaikan kerbau dicocok hidung. Ia melihat bagaimana Alika dengan lembut menggosok telapak tangan Bu Nilam.
Di tengah kepanikan itu, Rayyan menyadari satu hal. Di saat ia menghina Alika, wanita itulah yang justru paling sigap menyelamatkan jantung dari kehidupan rumah ini, yaitu ibunya.
Dokter pribadi akhirnya kembali datang dan segera memberikan tindakan. Setelah beberapa saat yang menegangkan, kondisi Bu Nilam berangsur stabil namun beliau harus istirahat total dan tidak boleh ada keributan lagi.
“Ibu pingsan karena syok emosional yang terlalu berat,” jelas Dokter.
“Tolong, saya mohon sekali lagi. Kedamaian di rumah ini adalah obat utama bagi beliau, Mbak Alika bukankah saya kemarin sudah mengatakan.”
“Iya Dok, maafkan saya”
Setelah dokter pergi, disaat yang bersamaan Citra kembali datang ke rumah setelah diberitahu oleh Bi Sus jika Bu Nilam pingsan, setelah memastikan keadaan Bu Nilam, suasana menjadi hening. Citra menatap Rayyan dengan pandangan penuh kekecewaan.
“Kamu lihat, Ray? Kelakuanmu hampir membunuh Mama,” ucap Citra lalu ia kembali ke kamar Mama nya.
Kini tinggal Rayyan dan Alika di ruang tengah. Rayyan menatap Alika yang masih terduduk lemas di sofa.
“Al...”
Alika menoleh, namun tatapannya masih kosong.
“Mas, demi kesehatan Mama... aku akan tetap tinggal di kamar bersamamu. Kita akan berpura-pura semuanya baik-baik saja di depan Mama. Tapi tolong... jangan dekati aku lebih dari yang diperlukan untuk sandiwara ini.”
Rayyan menelan ludah. Ia ingin membantah, ia ingin memperbaiki semuanya, tapi ia sadar bahwa ia telah kehilangan haknya untuk itu.
***
Bu Nilam sudah siuman sepenuhnya. Beliau bersandar di senderan ranjang dengan wajah yang masih pucat. Di samping kanannya, Citra duduk dengan mata sembab, sementara Alika duduk di sisi kiri, dengan telaten mengusap punggung tangan ibu mertuanya itu menggunakan minyak aromaterapi agar pernapasan Bu Nilam lebih lega.
“Alika...” suara Bu Nilam serak, ia mencoba meraih tangan Alika.
“Maafkan Mama, Nak. Maafkan Mama.”
Alika hanya tersenyum tipis, senyum yang sangat tulus hingga membuat Citra yang melihatnya harus memalingkan wajah karena tak kuasa menahan air mata.
“Mama tidak perlu meminta maaf terus-menerus. Yang penting sekarang Mama harus sehat dulu,” jawab Alika lembut.
“Tidak, Alika. Aku juga harus minta maaf,” Citra memotong pembicaraan.
“Aku mendukung ide Mama. Aku pikir, dengan menjebak kalian, Rayyan akan mendapatkan kebahagiaannya kembali. Aku terlalu egois. Aku hanya memikirkan adikku tanpa memikirkan bagaimana perasaanmu, bagaimana martabatmu sebagai seorang wanita yang tiba-tiba dipaksa masuk ke dalam kekacauan ini.”
“Kami menyeretmu ke dalam perang keluarga yang tidak seharusnya kamu hadapi. Gara-gara rencana bodoh kami, kamu dihina oleh Rayyan, dan sekarang kamu harus ikut menghadapi permasalahan Rayyan. Kami benar-benar berdosa padamu, Alika.”
Alika terdiam sejenak. Ia menarik napas panjang, menatap langit-langit kamar sebelum kembali menatap dua wanita di depannya. Memang benar ada rasa kecewa yang menyelinap di hatinya. Kecewa karena kebaikannya selama menjadi guru les Karla ternyata dimanfaatkan untuk sebuah skenario yang merenggut kebebasannya.
Namun, Alika adalah Alika. Wanita yang dididik dengan kesabaran seluas samudera oleh orang tuanya.
“Ma, Mbak Citra...” Alika memulai dengan nada tenang dan lembut.
“Jika saya bilang saya tidak kecewa, saya berbohong. Saya sangat kaget saat tahu semua ini adalah rencana. Saya merasa... seperti tidak memiliki hak atas hidup saya sendiri.”
Bu Nilam terisak mendengar itu.
“Tapi.. Saya melihat Mama dan Mbak Citra melakukannya karena kasih sayang yang begitu besar pada Mas Rayyan. Mama hanya ingin yang terbaik untuk putranya. Dan bagi saya, kasih sayang seorang ibu adalah sesuatu yang paling berharga, meskipun caranya terkadang salah.”
Alika menggenggam tangan Bu Nilam erat.
“Saya sudah memaafkan Mama dan Mbak Citra. Saya tidak ingin menyimpan dendam di rumah ini. Bagi saya, keikhlasan adalah satu-satunya cara agar hati saya tidak ikut membatu seperti Mas Rayyan.”
Bu Nilam dan Citra terkesiap. Mereka tidak menyangka Alika akan menjawab dengan sebegitu bijaknya. Tidak ada teriakan, tidak ada tuntutan ganti rugi, hanya ada kebesaran hati yang membuat siapa pun merasa kecil di hadapannya.
“Alika, kamu... kamu benar-benar..” bisik Bu Nilam dibalik isak tangisnya.
“Rayyan tidak pantas mendapatkanmu dengan cara seperti ini.”
Pintu kamar terbuka pelan. Rayyan berdiri di sana. Ia baru saja kembali dari depan rumah, setelah menghubungi Arga, jasnya sudah ia lepaskan, menyisakan kemeja putih yang lengannya digulung hingga siku.
Ia tidak pergi ke kantor hari ini, melihat kekacauan pagi tadi sepertinya ia pun tidak akan fokus untuk bekerja. Ia mendengar hampir seluruh percakapan itu dari balik pintu.
Mendengar Alika memaafkan ibunya dengan begitu tulus, sementara ia sendiri selama ini memperlakukan Alika seperti musuh, membuat hati Rayyan terasa diremas-remas oleh penyesalan yang tak berujung.
“Ma..” panggil Rayyan.
Citra yang melihat adik semata wayangnya masuk ke kamar, menatap wajahnya dengan tegas.
“Ray, ikut Mbak.. Mbak mau bicara” ucapnya.
Tanpa sepatah kata pun, Rayyan mengekori Citra keluar kamar, sedangkan Alika masih tetap di kamar menemani Bu Nilam.
Setelah pintu kamar di tutup. Citra berjalan agak menjauh dari kamar, ia khawatir pembicaraannya dengan Rayyan nanti di dengar oleh Bu Nilam.
“Ray.. Dimana sih otak kamu?!” ucap Citra berapi-api.
“Kamu tahu kan kesehatan Mama? Kamu tahu keadaan Mama seperti apa? Dan kamu lihat sekarang, karena kelakuanmu!”
Rayyan hanya terdiam menunduk.
“Mbak gak nyangka Ray, kok bisa kamu melampiaskan kekesalan kamu ke Alika dan lagi bisa-bisa nya kamu menghamili wanita lain disaat kamu sudah terikat pernikahan dengan Alika!” Citra benar-benar kesal dan tidak habis pikir.
Rayyan mendongakkan wajahnya.
“Mbak.. aku tidak melakukan itu, aku tidak menghamili siapapun!”
“Lalu? Apa pembelaan kamu ke Mbak”
“Arga sedang menyelidiki Mbak”
Citra melipat kedua tangannya di d**a, dengan tatapan mengintimidasi adiknya.
“Oke, kalau memang benar apa yang kamu katakan, selesaikan masalahmu segera, Mbak tidak mau Mama kembali syok bahkan pingsan hanya karena ulahmu yang kekanakan itu! Oya satu lagi, perbaiki hubunganmu dengan Alika di tidak tahu apa-apa, bila perlu kamu minta maaf dan bersujud di kaki nya”
Citra kembali melangkah, meninggalkan Rayyan yang masih berdiri mematung.
Rayyan menghela nafasnya kasar, kepalanya berdenyut hebat. Disaat yang bersamaan ponselnya bergetar.
Nama Arga terlihat pada layar ponselnya.
Rayyan menggeser tombol hijau pada layar ponselnya.
“Ya Ga..”
“.............”
“Apa?!”
❤️🔥❤️🔥❤️🔥