“CUKUP RAYYAN!”
Suara Bu Nilam melengking, jauh lebih keras dari suara Rayyan tadi. Wanita tua itu berdiri dengan tangan bertumpu pada meja, napasnya memburu walaupun tubuhnya sedikit bergetar.
“Jangan pernah kamu menuduh Alika seperti itu! Kamu ingin tahu siapa yang merencanakan semuanya?” Bu Nilam menatap putranya dengan tatapan yang sangat tajam.
“Aku. Aku Mamamu yang merencanakan semuanya!”
Deg.
Jantung Rayyan seolah berhenti berdetak. Ia terpaku, menatap ibunya dengan tatapan tidak percaya.
Sementara Alika, ia hanya bisa membelalakkan mata, tangannya gemetar hebat, lutut nya terasa lemas.
“Apa maksud Mama?” tanya Rayyan dengan suara yang tiba-tiba merendah karena syok.
“Alika tidak tahu apa-apa! Dia benar-benar ingin pulang hari itu!”
Bu Nilam mulai berteriak, air mata mulai mengalir membasahi pipinya.
“Mama yang berpura-pura sakit kepala. Mama yang meminta Alika ke kamar mandi untuk mengambil handuk dan air hangat. Dan Mama sendiri yang mengunci pintu itu dari luar saat kamu datang dan Mama tahu kamu sudah masuk untuk mencari Mama!”
Rayyan mundur satu langkah, wajahnya pucat pasi.
“Ma... tidak mungkin. Mama tidak mungkin melakukan hal serendah itu hanya untuk memaksaku menikah.”
“Mama terpaksa, Rayyan!” sahut Bu Nilam melemahkan suaranya namun tetap tajam.
“Karena kamu menutup dirimu terlalu rapat! Kamu menjadi pria dingin yang tidak punya hati. Mama sudah tua, usiamu pun sudah 30. Mama melihat Alika sebagai satu-satunya wanita yang bisa membuatmu kembali hangat. Mama yang memaksanya! Bahkan saat Mama dan Kakakmu datang ke rumah keluarga Alika, Mama yang memohon-mohon agar mereka setuju menikahkan Alika denganmu karena kejadian itu.”
Bu Nilam menatap Alika dengan penuh rasa bersalah.
“Alika adalah korban di sini, Rayyan! Dia dipaksa masuk ke keluarga ini. Dia kehilangan kebebasannya, kehilangan kemerdekaan nya, kehilangan haknya untuk memilih pria yang dia cintai, hanya karena ego mamamu ini!”
Hening.
Ruang makan itu mendadak sunyi senyap, hanya suara detak jam dinding yang terdengar.
Rayyan menatap Alika. Untuk pertama kalinya, ia melihat istrinya itu bukan sebagai musuh atau penipu, melainkan sebagai seseorang yang telah ia hancurkan harga dirinya selama tiga bulan ini tanpa alasan yang benar. Alika tidak menjebaknya. Alika justru adalah orang yang ia sakiti paling dalam.
Alika bangkit dari duduknya dengan perlahan. Wajahnya tidak menunjukkan kemarahan, hanya ada kekosongan yang sangat dalam. Ia menatap Bu Nilam dengan lembut, lalu beralih menatap Rayyan.
“Sekarang Mas sudah tahu kebenarannya,” ucap Alika lirih.
“Aku tidak butuh hartamu, Mas. Aku tidak butuh nama besar Adyatama. Aku hanya ingin menjalani hidupku dengan tenang. Tapi karena aku menghormati Mama dan menghargai kedua orangtuaku, aku menerima pernikahan ini.”
Alika melangkah menjauh dari meja makan.
“Maaf, aku harus ke kamar, permisi.”
Alika pergi meninggalkan ruang makan dengan langkah yang tetap anggun namun terlihat sangat rapuh.
Rayyan masih terpaku di tempatnya. Kepalanya berdenyut hebat. Semua tuduhan, semua hinaan, dan semua kontrak pernikahan yang ia lemparkan ke wajah Alika kembali berputar di otaknya seperti bumerang yang sekarang menghantam dirinya sendiri tepat di ulu hati.
“Rayyan...” panggil Bu Nilam dengan suara yang kembali lemah.
Rayyan tidak menjawab. Ia segera berbalik dan berlari menaiki tangga menuju kamarnya. Ia harus bicara pada Alika. Ia harus mengatakan sesuatu.
***
Saat ia membuka pintu kamar dengan kasar, ia melihat Alika sedang berdiri di depan jendela yang terbuka, memunggungi pintu. Alika tidak berteriak, ia tidak melempar barang, ia hanya menangis dalam kesunyian, cara yang selalu ia lakukan menghadapi emosinya.
Rayyan berdiri mematung di tengah kamar. Dunia yang selama ini ia bangun di atas kecurigaan dan rasa benci terhadap wanita, seketika runtuh berkeping-keping.
Pengakuan ibunya di bawah tadi bukan hanya membersihkan nama Alika, tapi juga menelanjangi betapa kerasnya jiwa Rayyan selama ini.
Ia menatap punggung Alika yang masih diam di depan jendela. Pikiran Rayyan melayang ke lima tahun yang lalu. Luka itu. Luka yang ia biarkan membusuk dan meracuni seluruh pikiran tentang cinta. Saat itu Nadia, tunangan yang sangat ia cintai, wanita yang ia pikir akan menjadi pelabuhan terakhirnya. Namun, di malam pertunangan mereka, Rayyan melihat dengan mata kepalanya sendiri Nadia berciuman panas dengan pria lain yang ironisnya adalah saingan bisnisnya sendiri.
“Kamu terlalu membosankan, Ray. Kamu hanya tahu kerja dan uang. Aku butuh gairah yang tidak bisa kamu berikan, walaupun sebenarnya aku pun butuh uang kamu, tapi sekarang aku sudah memiliki keduanya” kata-kata Nadia saat itu lebih tajam dari pisau.
Sejak hari itu, Rayyan bersumpah tidak akan pernah membiarkan wanita mana pun masuk ke dalam hidupnya. Baginya, kelembutan adalah manipulasi, dan kesabaran adalah topeng untuk pengkhianatan. Itulah sebabnya ia menyerang Alika dengan begitu agresif. Ia menumpahkan semua dendamnya pada Nadia, kepada Alika yang sama sekali tidak berdosa dan tidak tahu apa-apa.
Kini, kenyataan menghantamnya. Alika bukanlah Nadia. Alika bukan pula Sherly.
“Alika...” suara Rayyan pecah, nyaris tak terdengar.
Alika perlahan berbalik. Wajahnya yang anggun kini sembab. Matanya yang biasanya tenang dan teduh, memancarkan keletihan yang luar biasa. Ia menatap Rayyan bukan dengan kemarahan yang meluap-luap, melainkan dengan kekecewaan yang sunyi.
“Kamu sudah puas, Mas?” tanya Alika lirih.
“Ternyata benar, harta dan jabatan memang bisa membuat seseorang lupa bahwa orang lain juga memiliki hati.
“Al, aku... aku tidak tahu kalau Mama sampai sejauh itu. Aku pikir kamu..“
“Kamu pikir aku murahan? Kamu pikir aku menjual harga diriku hanya untuk masuk ke rumah mewah ini?” Alika memotong.
“Aku hanya orang biasa, Mas. Aku hanya seorang guru les bagi keponakanmu, aku bekerja untuk menyambung hidupku, karena aku tidak ingin membebani kedua orang tuaku. Aku bekerja dengan kata-kata. Aku tahu arti dari setiap hinaan yang kamu lemparkan padaku sejak hari pertama kita menikah. Aku bertahan hanya karena aku tidak ingin mengecewakan Bu Nilam yang sudah begitu baik padaku.”
Alika melangkah mendekati meja rias, membuka laci lalu mengambil map cokelat berisi kontrak pernikahan yang sudah ia tanda tangani. Ia menyodorkannya ke d**a Rayyan.
“Ambil ini. Jika kamu ingin bercerai sekarang juga, aku bersedia. Aku akan bicara pada Bu Nilam secara baik-baik, jika pernikahan ini tidak dapat dilanjutkan, aku sudah tidak mempunyai energi untuk terus berpura-pura dan bersandiwara. Kamu tidak perlu merasa terbebani oleh ‘jebakan’ ini lagi. Aku akan pergi dari sini tanpa membawa sepeser pun uangmu, seperti yang kamu takutkan.”
Lalu Alika kembali menuju meja rias dan mengambil dua kartu debit dan kredit yang sempat Rayyan berikan 3 hari setelah mereka menikah.
“Dan ini Mas, aku tidak butuh ini, silakan ambil, aku belum memakainya sepeserpun.”
Rayyan menatap map dan kartu pipih kecil itu dengan tangan gemetar. Rasa malu membakar wajahnya. Ia teringat bagaimana ia melemparkan map ini ke hadapan Alika dengan penuh keangkuhan. Ia pun melemparkan dua kartu kredit dan debit kepada Alika tanpa memiliki perasaan. Kini, map itu terasa seberat gunung di tangannya.
“Tidak, Alika. Tolong... jangan sekarang,” ucap Rayyan dengan nada memohon yang baru Alika dengar pertama kali.
“Kenapa? Kamu takut reputasimu hancur karena pernikahan kilat?” Alika tersenyum pahit.
“Jangan khawatir. Aku akan menjaga nama baikmu sampai situasi mereda. Setelah itu, tolong lepaskan aku.”
Rayyan terdiam seribu bahasa. Ia ingin menjelaskan tentang Nadia, tentang bagaimana traumanya membuatnya menjadi buta. Ia ingin menjelaskan tentang Sherly, bahwa ia sendiri korban jebakan. Namun, melihat luka di mata Alika, ia tahu bahwa penjelasan apa pun saat ini hanya akan terdengar seperti pembelaan diri yang egois.
“Aku minta maaf,” ucap Rayyan pelan.
Deg
Kata-kata itu, kata-kata yang tidak pernah keluar dari mulutnya dalam lima tahun terakhir ini. Kali ini Rayyan mengucapkan nya, hanya untuk Alika.
“Aku... aku adalah pria paling bodoh yang pernah kamu temui. Aku membiarkan masa laluku menghancurkan penilaianku terhadapmu.”
Alika hanya diam. Maaf itu terdengar tulus, namun rasa sakit di hatinya sudah terlanjur dalam. Ia melewati Rayyan begitu saja, berjalan menuju lemari untuk mengambil beberapa helai pakaian.
“Aku akan tidur di kamar tamu malam ini. Aku butuh waktu untuk menyendiri dan berpikir,” ucap Alika tanpa menoleh lagi.
Saat Alika akan berjalan keluar kamar, disaat yang bersamaan terdengar pintu kamar di ketuk.
Tok tok tok
“Mas Rayyan, Mbak Alika!”
Alika langsung membuka pintu kamar.
“Ya Bi.. ada apa?”
“Mbak.. itu .. Ibu..”
“Hah....”
Deg.
❤️🔥❤️🔥❤️🔥