Keesokan paginya, matahari mulai merayap masuk melalui celah gorden kamar yang megah itu. Alika sudah bangun sejak sebelum subuh. Menjadi seorang istri meski hanya di atas kertas dan dalam bayang-bayang kebencian tidak membuat Alika kehilangan jati dirinya. Baginya, tugas adalah tanggung jawab yang harus ditunaikan dengan sempurna.
Alika sudah mandi dan berpakaian rapi. Ia bergerak tanpa suara, menyiapkan setelan jas berwarna navy milik Rayyan lengkap dengan dasi yang senada. Ia meletakkannya di atas sofa, tempat Rayyan semalam tidur dengan posisi yang tampak tidak nyaman.
Saat Alika sedang merapikan jam tangan dan parfum di atas meja, ia mendengar suara gerakan. Rayyan terbangun, mengerang kecil sambil memijat lehernya yang kaku. Mata pria itu langsung tertuju pada Alika.
“Mas, Jas dan keperluanmu sudah aku siapkan,” ucap Alika tenang, tanpa menoleh. Suaranya datar, tidak ada nada manja atau berusaha mencari perhatian.
Rayyan bangkit, menatap pakaian yang sudah disiapkan Alika dengan tatapan sinis.
“Sudah berkali-kali aku bilang, aku tidak memintamu melakukannya. Kamu tidak perlu bertindak seolah-olah kita ini pasangan normal.”
Alika menghentikan kegiatannya. Ia berbalik, menatap suaminya dengan tatapan yang cukup sulit di artikan.
“Aku melakukannya bukan untukmu, Mas. Aku melakukannya karena ini adalah kewajibanku. Aku tidak ingin Ibu mu melihatku abai terhadap suamiku sendiri. Bukankah kita sedang bersandiwara?”
Rayyan mendengus, ia berdiri dan melangkah mendekati Alika, jarak mereka cukup dekat hingga Alika kembali merasa terintimidasi.
“Sandiwara? Kamu memang ahlinya. Aku masih bertanya-tanya, apa yang sebenarnya kamu rencanakan? Setelah drama guru les, lalu drama terjebak di kamar mandi, dan sekarang... kamu bertingkah seperti istri yang berbakti?”
Alika menarik napas panjang.
“Apa lagi yang kamu ragukan, Mas? Aku pun berkali-kali bilang, aku sama sekali tidak pernah merencanakan drama apapun. Bukankah aku sudah menandatangani kontrak itu? Aku tidak meminta sepeser pun hartamu.”
“Itu karena kamu tahu, dengan menjadi menantu kesayangan Mama, kamu akan mendapatkan jauh lebih banyak dari sekadar uang bulanan,” tuduh Rayyan tajam.
“Kamu pikir aku buta? Caramu mendekati Karla, caramu membuat Mama sangat nergantung padamu, caramu mengambil simpati Mbak Citra... itu jalur paling halus untuk menguasai keluarga Adyatama.”
Alika mengepalkan tangannya di samping. Dadanya berdenyut perih. Ia ingin berteriak bahwa dialah yang paling dirugikan di sini. Dialah yang kehilangan masa depannya, dialah yang reputasinya dipertaruhkan, dan dialah yang harus menanggung beban melihat wanita lain yang datang mengaku mengandung benih suaminya.
“Jika aku memang mengejar hartamu, Mas Rayyan...”
“... Aku tidak akan membiarkan diriku dihina seperti ini. Aku punya harga diri. Dan soal perempuan itu... harusnya aku yang bertanya, kamu bersama perempuan itu setelah kita ada ikatan pernikahan bukan?Bagaimana bisa kamu yang merasa dijebak olehku, sementara di luar sana kamu punya masalah yang lebih nyata dengan wanita lain?”
Rahang Rayyan mengeras.
“Masalah Sherly adalah urusanku. Dan jangan pernah kamu berani menyamakan dirimu dengan dia. Setidaknya dia terang-terangan menunjukkan apa yang dia mau, sedangkan kamu... kamu bergerak sangat lembut.”
Tanpa menunggu balasan, Rayyan menyambar handuknya dan masuk ke kamar mandi, membanting pintunya dengan keras.
Alika terduduk di kursi rias. Ia memejamkan mata, mencoba menenangkan debaran jantungnya. Air mata hampir jatuh, namun ia segera menyekanya. Ia tidak boleh lemah. Ia harus turun ke bawah, menyiapkan sarapan untuk Bu Nilam dan memastikan kesehatan ibu mertuanya itu terjaga.
***
Setelah perdebatan nya dengan Rayyan, ia melangkah keluar kamar.
Di ruang makan, suasana terasa jauh lebih hangat karena kehadiran Bu Nilam yang sudah terlihat lebih segar, meski wajahnya masih menunjukkan sisa-sisa kelelahan.
“Pagi, Alika Sayang. Mana Rayyan?” tanya Bu Nilam dengan senyum tulus.
“Pagi, Ma. Mas Rayyan sedang bersiap-siap. Mungkin sebentar lagi turun,” jawab Alika sambil menyajikan bubur gandum dan buah-buahan segar di depan Bu Nilam.
Tak lama kemudian, Rayyan turun dengan setelan yang sudah disiapkan Alika tadi. Ia duduk di meja makan dengan wajah kaku. Bu Nilam menatap putranya dengan tatapan menyelidik.
“Rayyan, Mama ingin bicara serius,” ucap Bu Nilam tanpa basa-basi.
“Soal wanita yang kemarin... Mama tidak menyangka kamu seliar itu diluar, kamu sudah menikah Rayyan, ini.. Alika.. dia istrimu. Mama tidak ingin ada keributan lagi. Selesaikan masalahmu! Alika sudah sangat sabar menghadapi ini semua. Jangan sampai kamu menyakiti hati istri yang sudah Tuhan pilihkan untukmu.”
Rayyan melirik Alika sekilas.
“Istri yang Mama inginkan, bukan aku yang ingin”
“Rayyan!!” ucap Bu Nilam meninggi.
Deg
Suasana di meja makan yang tadinya hanya tegang karena kehadiran Rayyan, kini berubah menjadi medan pertempuran batin. Bu Nilam meletakkan sendoknya dengan dentingan yang cukup keras di atas piring porselen. Matanya yang biasanya teduh, kini menatap Rayyan dengan kobaran amarah yang tidak bisa disembunyikan lagi.
“Mama kecewa padamu, Rayyan,” suara Bu Nilam bergetar.
“Bagaimana bisa kamu seliar itu di luar, kamu sudah menikah Rayyan! Lihat Alika, dia istrimu! Bagaimana bisa kamu begitu ceroboh hingga terjebak dalam situasi menjijikkan di hotel itu?”
Mendengar kata “terjebak”, kata itu adalah pemicu ledakan amarahnya. Ia meletakkan garpunya kasar, lalu berdiri hingga kursi yang didudukinya bergeser menimbulkan suara yang membuat suasana semakin tegang.
“Terjebak? Mama bicara soal terjebak?” Rayyan tertawa sinis, matanya beralih menatap tajam ke arah Alika yang duduk mematung di seberangnya.
“Seharusnya Mama bertanya pada wanita di samping Mama itu! Dia yang lebih tahu arti kata ‘terjebak’ yang sebenarnya!”
Alika mendongak, matanya bertemu dengan tatapan penuh kebencian dari Rayyan.
“Mas, sudah.. Mama..“
“Diam!” bentak Rayyan, membuat Alika tersentak.
“Jangan berlagak polos di depan Mama! Kamu mendekati Karla, mengambil hati Mama, menarik simpati Mbak Citra, agar Mama merasa kamu adalah pilihan terbaik. Dan puncaknya? Kamu mengatur drama kamar mandi itu agar aku tidak punya pilihan selain menikahimu!”
Rayyan menunjuk Alika dengan jari telunjuknya, suaranya menggelegar di ruang makan.
“Kamu menginginkan nama Adyatama, kan? Kamu ingin hidup mewah tanpa harus bekerja keras. Katakan padaku, berapa harga yang harus aku bayar agar kamu berhenti bersandiwara?”
Alika merasakan dadanya sesak luar biasa. Dituduh sedemikian rupa di depan ibu mertuanya sendiri adalah penghinaan yang paling menyakitkan. Ia ingin membela diri, namun suaranya tertahan di tenggorokan.
“CUKUP, RAYYAN!”
❤️🔥❤️🔥❤️🔥