“Hoam....” Kirana sengaja menguap dan menutupinya dengan satu tangan, menunjukkan rasa bosan untuk mengalihkan suasana. Sepasang mata Vina yang masih nanar pun menghunuskan tatapan tajam padanya. Dari situlah Kirana bisa menyimpulkan bahwa niatnya berhasil. “Sudah belum dramanya? Apa aku diundang ke sini untuk menyaksikan drama secara live? Kalau sudah nggak ada kepentingan lain, aku pergi deh. Maaf, aku masih banyak urusan yang lebih penting.” Seru Kirana dengan nada sinisnya, cukup mudah baginya untuk berlaku seakan tidak tertarik pada apa yang terjadi di antara Vina dan Aditya. Ia memilih menyelamatkan hatinya dari rasa perih ketimbang terus dibiarkan tersakiti oleh kenyataan yang tidak mampu ia dengar. “Tunggu dulu! Aku mengajakmu kemari untuk mengabari semuanya, terutama pada kamu.”

