Aditya membelalakkan sepasang netranya saat melihat belahan paha Kirana yang mulus dan putih. Meskipun ia sudah sering mencicipi inti tubuh wanita itu, namun pemandangan yang mendesirkan darahnya itu tetap bisa membangkitkan hasrat terpendamnya. Ia menangkap gerak tubuh Kirana sebagai undangan tanpa kata-kata, tubuhnya beransur mendekat, merapat pada wanita yang masih memegangi gelas kosong di tangannya. “Kirana, aku tahu kesalahanku memang fatal, tapi tolong berikan aku maaf dan kesempatan lagi. Aku janji tidak akan pernah meninggalkan kamu lagi. Kita tetap lanjutkan pernikahan ya... Kamu tahu, aku sudah menyiapkan kamar pengantin kita dan sampai sekarang masih terhias dengan baik. Aku tak sampai hati membongkar semua itu. Jujur saja setelah aku mengambil keputusan itu, aku merasa ragu da

