"Lepaskan! Devan, b******k! Biarkan aku bicara dengan Adrian! Aku mohon, sekali saja!" Nara menjerit histeris, namun suaranya habis ditelan deru mesin yang kian melengking tinggi. Raungan mesin turbin helikopter Airbus ACH160 itu bukan lagi sekadar suara, ia adalah teror yang menggetarkan kerangka d**a. Di atas landasan pacu pribadi keluarga Reuben yang tersembunyi dalam kepekatan pinggiran Jakarta, badai buatan dari putaran baling-baling raksasa menghantam tubuh Nara tanpa ampun. Angin kencang itu menyapu rambutnya yang kusut, menerbangkan butiran debu yang menyatu dengan lelehan air mata yang tak kunjung mengering. Di bawah langit malam yang hitam legam tanpa satu pun bintang, Nara merasa dunianya baru saja kiamat. Cengkeraman tangan besi Devan di lengan atasnya terasa seolah ingin m

