“Devan, kumohon... ampuni dia. Sekali saja,” rintih Nara. Suaranya serak, nyaris habis karena tangis yang tak kunjung usai. Devan tidak menjawab. Ia justru mencengkeram bahu Nara, memaksanya berdiri dan menyeretnya ke balkon kaca yang menghadap langsung ke samudera biru yang tak berujung. Ia ingin Nara melihat betapa luasnya isolasi mereka—bahwa di tempat ini, tidak ada hukum selain kehendaknya. Namun, pemandangan indah itu justru terasa seperti ejekan bagi Nara. Semakin Nara terisak demi pria lain, semakin rahang Devan mengeras. Ada rasa panas yang membakar dadanya—sebuah kombinasi antara cemburu yang primitif dan kemarahan yang dingin. Kehadiran Adrian dalam ingatan Nara adalah duri yang terus-menerus mengoyak ego Devan. “Cukup, Nara. Masuk,” desis Devan. Suaranya begitu rendah dan ta

