Nara berdiri mematung di depan dinding kaca raksasa, menatap cakrawala yang tak berujung. Matanya tidak benar-benar melihat laut; ia sedang tersesat di dalam labirin pikirannya sendiri, mencari celah di mana hidupnya yang dulu pernah ada. "Buat apa kamu melamun?" Suara bariton Devan memecah lamunan Nara seperti batu yang dilempar ke permukaan danau yang tenang. Nara tersentak kecil, menoleh cepat ke arah pria yang baru saja masuk ke ruangan itu. Ia menatap Devan sesaat, namun bibirnya tetap terkatup rapat, enggan memberikan jawaban yang ia tahu hanya akan memicu perdebatan. Devan menghela napas panjang, sebuah desahan yang terdengar lebih seperti kelelahan daripada amarah. Ia melangkah mendekat, mengikis jarak hingga aroma maskulinnya yang dominan mulai menguasai indra penciuman Nara.

