"Tiarap, Nara! Jangan berani-berani beranjak dari lantai kalau kau masih ingin melihat matahari pagi!" Suara Devan menggelegar, lebih tajam dan lebih mematikan daripada raungan sirene yang tiba-tiba membelah keheningan Pulau Saumlaki. Di dalam kamar utama yang dindingnya didominasi kaca transparan, atmosfer surga tropis itu menguap dalam hitungan detik, digantikan oleh hawa mencekam yang membekukan darah. Lampu-lampu sorot otomatis di sekeliling vila menyala serentak, menyapu permukaan laut yang hitam pekat dengan cahaya putih yang menyilaukan, memburu bayangan-bayangan yang bergerak cepat di atas gelombang. Devan tersentak bangun dengan insting predator yang tak pernah benar-benar tidur. Matanya langsung tertuju pada tablet keamanan di nakas yang berkedip merah darah, menampilkan titik

