Salah satu pria itu mencengkeram rahang Nara dengan kekuatan yang sanggup meretakkan tulang, memaksanya diam sementara rasa sakit menjalar ke seluruh wajahnya. "Diamlah, Manis. Tuanmu sedang sangat sibuk bertaruh nyawa di sisi lain tebing. Dia terjepit di antara tim sniper dan jurang. Dia tidak akan bisa mendengarmu, apalagi menyelamatkanmu." Nara diseret paksa keluar dari bungker, kakinya yang telanjang terseret di atas lantai yang kasar. Saat mereka melewati lorong-lorong bawah tanah dan naik ke lobi utama vila, pemandangan yang tersaji membuat Nara ingin memuntahkan seluruh isi perutnya. Vila minimalis yang tadinya begitu angkuh dan mewah kini hancur berantakan. Kaca-kaca raksasa pecah berserakan seperti kristal yang dihantam badai. Mayat-mayat penjaga pribadi Devan bergelimpangan di

