"Lihat dia, Devan. Lihat bagaimana 'pabrik bayimu' ini gemetar ketakutan. Apa kamu tidak merasa iba melihat nyawa masa depan Reuben ditekan oleh logam dingin seperti ini?" Suara Mahendra terdengar dari balik speaker ponsel satelit, setiap katanya mengandung racun ejekan. Di layar kecil yang retak itu, laras pistol semi-otomatis menekan perut Nara yang masih rata, menciptakan cekungan kecil di balik gaun putihnya yang mulai ternoda darah. Nara merintih, matanya terpejam rapat dengan air mata yang mengalir tanpa henti, sementara kram hebat di rahimnya terlihat jelas dari bagaimana tubuhnya melengkung menahan sakit. "Mahendra… Berani kamu menyentuhnya satu senti saja, aku bersumpah demi Tuhan, aku akan merobek jantungmu dari dadamu selagi kamu masih bisa bernapas!" Raungan Devan membelah s

