“Nara, apa ini sakit?” Devan berbisik sambil mengelus luka-luka baret di punggungnya. Nara, yang tadi berhasil menjerit karena sentuhan Devan, kini merasakan tubuhnya hangat saat dirangkul. “Nara, aku tanya—” “Kamu pikir dilempar ke pecahan beling itu kenikmatan?” balas Nara dengan kalimat pedas yang membuat Devan terdiam, tak mampu menjawab. Luka-luka kecil tak hanya terlihat di punggung, tapi juga di tangan dan kakinya. Devan hanya menghela napas pelan. Nara berbalik, menatap Devan dengan pandangan mulai berani, mencoba memprovokasi. “Gimana cara kamu bertanggung jawab?” Devan tetap diam, matanya terpaku pada wajah polos Nara yang tanpa sentuhan make up, tapi selalu mampu membangkitkan hasratnya. Ia menyeringai, “Apa yang kamu minta sebagai tanggung jawabku? Jangan bilang kamu mau

