Bab 70

1374 Kata

Nara memejamkan matanya sesaat, demi menenangkan rasa terkejutnya. Gema pecahan gelas wiski yang berserakan di lantai marmer masih berdentum di telinganya, menciptakan bunyi nyeri yang menusuk hingga ke dasar kepalanya. Namun Nara tetap teguh, berdiri seperti patung batu yang tak tergerus angin topan. Cengkeraman Devan di bahunya seperti taring yang menggenggam daging, menembus kulit, meremukkan tulang, mencengkeram jiwa yang telah lama melarikan diri ke tempat sunyi tanpa harapan. “Kau mau aku marah?” Suara Nara keluar pelan, dingin, nyaris tanpa emosi, sangat kontras dengan napas Devan yang memburu dan penuh bara di depan wajahnya. “Buat apa? Marah itu tanda peduli, Devan. Tapi aku sudah kehilangan semua itu—kamu yang membunuhnya perlahan, tanpa ampun. Lalu sekarang kamu mau itu dariku

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN