Brak! Nara menutup pintu kamarnya kencang, dia bersandar di pintu sembari dadanya naik turun karena merasakan emosinya melonjak. “Dia gila,” desisnya, “psikopat.” Bahkan gadis itu sendiri masih tidak mengerti kenapa juga Devan bersikap tidak biasa. Tubuhnya menegang mengingat ucapan Bianka. Apa benar pria itu terganggu sekarang? Nara hanya rencananya bisa berjalan lancar tanpa ada kendala. Itu yang diinginkannya untuk saat ini. Dia ingat bagaimana Bianka mengancam beralasan membantunya. Hatinya pun merasa lelah saat harus bertentangan dengan Devan. Tok tok tok. Nara tidak menjawab ketukan pintu itu, dia memilih untuk tidur meringkuk, mencoba melupakan kejadian paling gila tadi. “Non … tidur ya?” tanya Yeni dari balik pintu. Yeni menghela napasnya pelan, dia ingin menghibur Nara s

