Situasinya menjadi sangat sulit, saat posisi duduk yang berhadapan seperti ini. Sialnya, Alifa berhadapan langsung dengan lelaki itu.
Sosok yang memilih diam sejak beberapa waktu lalu.
“Gugup?” tiba-tiba Rama menyentuh punggung tangan Alifa, menyentuh lembut dan singkat.
“Kesehatan Kiara selalu membuatku gugup.”
“Calon ayah Kiara?” tanya Dokter Andri dengan senyum jahil.
“Doakan ya dok,” balas Rama, sementara Alifa hanya tersenyum samar tidak terlalu menanggapi.
Saat ini Alifa bisa melihat dengan jelas wajah Adrian, tepat di depannya. Tidak banyak yang berubah darinya, wajah, bentuk tubuh, bahkan potongan rambutnya pun masih sama, hanya saja jauh lebih dewasa dan tentunya jauh lebih tampan. Alifa mengakui itu.
Lelaki itu pasti menjalani hidupnya dengan sangat baik, berbanding terbalik dengan dirinya yang terus-menerus dihantam rasa bersalah dan nyaris putus asa. Tidak mudah melewatinya.
“Dari catatan medis Kiara, kondisinya sudah tidak separah dulu. Meski begitu, kami akan tetap menyarankan untuk melakukan operasi cangkok jantung. Bagaimana kalau Kiara dibawa langsung untuk melakukan pemeriksaan, jangan tunggu sampai penyakitnya kambuh, mencegah jauh lebih baik.”
Alifa setuju, hanya saja dalam beberapa hari terakhir ia dan pihak keluarga justru merencanakan pembatalan operasi yang sudah direncanakan sejak lama. Alasannya tentu saja karena Adrian.
Julukan tangan malaikat yang sudah tertanam dalam dirinya tidak lantas membuat Alifa percaya.
“Kiara anak yang manis dan cantik, kamu harus bertemu dengannya.” Dokter Andri menoleh ke arah Adrian.
“Bagaimana kalau kita mengatur pertemuan minggu depan? Kebetulan Minggu depan kami memiliki waktu luang.” saran Dokter Andri.
“Saya akan membicarakannya dulu dengan pihak keluarga, nanti saya kabari lagi Dok.”
“Baiklah. Secepatnya hubungi saya,”
“Baik.”
Obrolan seputar rencana operasi Kiara memang menarik perhatian Alifa, tapi yang jauh lebih menarik lagi yakni saat menyadari Adrian menatapnya dengan tatapan dingin dan menusuk. Entah apa yang ada dalam isi kepala lelaki itu, bahkan tatapannya pun mengandung banyak arti.
“saya rasa pertemuan untuk hari ini sudah cukup, terimakasih untuk waktunya. Semoga rencana operasi Kiara berjalan lancar dan anak cantik itu kembali sehat, hidup dengan normal.”
“Iya, dok. Saya juga berterima kasih untuk waktunya.”
“Sama-sama Alifa.”
Untuk kedua kalinya Alifa berjabat tangan dengan Adrian. Lelaki itu benar-benar dingin, bahkan Alifa sempat berencana untuk berkomunikasi seperti biasanya, menganggap tidak ada yang terjadi diantara mereka, namun Adrian sudah terlebih dulu menunjukkan sikap tidak bersahabat. Alifa hanya mengimbangi saja.
“Baiklah, kalau begitu kami pamit,dok.” Rama pun ikut pamit.
“Ayo, kita makan kamu pasti sudah sangat lapar, kan?” Rama menarik ujung siku Alifa, menggandengnya keluar dari ruangan dokter Andri.
Hanya saja saat mereka berada persis di depan pintu ruangan tersebut, Alifa dan Rama dikejutkan dengan kedatangan seorang wanita.
Sosok yang begitu familiar, yang membuat Alifa dan Rama tersenyum ramah padanya.
“Bu Rinati.” Rama menyapa, disusul Alifa. Sedikit terkejut melihat sosok bos baru itu ada di sekitar rumah sakit, bahkan mungkin wanita itu hendak berkunjung ke ruang dokter Andri, terlihat dari arah tujuannya, berjalan menuju ruang dokter Andri.
“Alifa dan Rama, kalian dari mana? Atau baru keluar dari ruang dokter Andri?”
“Kami baru saja keluar dari ruang dokter Andri, Bu Rianti mau kemana?” tanya Rama basa-basi, sejujurnya mereka tidak begitu ingin tahu apa yang dilakukan Rianti di rumah sakit.
“Saya sedang mencari seseorang, katanya ada di ruang kerja dokter Andri.” jawabnya dengan senyum.
“Nah itu dia,” Rianti menunjuk ke arah belakang Alifa dan Rama.
“Itu suami saya.”
Rianti tersenyum manis, melambaikan satu tangannya, diikuti oleh tatapan Alifa yang tiba-tiba penasaran.
Kedua mata Alifa terbuka lebar, melihat sosok lelaki yang dimaksud suami oleh Rianti.
Adrian.
Rianti berjalan menghampiri Adrian, merangkul dau tangannya dengan mesra.
“Sayang, udah selesai? Serba kebetulan banget ya, mereka ini karyawanku di kantor. Alifa dan Rama.”
Tanpa diminta, Rianti memperkenalkan keduanya. Sementara reaksi Adrian hanya menggumam pelan masih dengan tatapan dinginnya.
“Wah kebetulan sekali, Bu. Saya dengar Ibu masih single, ternyata sudah punya suami. Hampir saja saya dan yang lain mau deketin ibu, nih!” Rama menggoda, jelas hanya basa-basi saja.
“Bisa saja.”
“Kami sudah menikah, tepatnya dua tahun lalu.”
Entah pengakuan atau membantah, tiba-tiba saja Adrian ikut bicara.
“Oh,, begitu.”
“Benar. Tidak berniat membenarkan, tapi nggak ada yang tanya masalah pribadi saya saat perkenalan kemarin, jadi saya nggak bilang udah menikah” Rianti membenarkan.
“Kalau begitu kami permisi duluan, Bu?”
“Silahkan.”
Alifa kembali melanjutkan langkah bersama Rama yang sudah menggandeng tangannya. Tiba-tiba aja Alifa tidak bisa berpikir dengan jernih, otaknya tidak berfungsi dengan baik bahkan jika tidak ada Rama, bisa dipastikan Alifa mirip patung. Dia dan membeku.
Otaknya sulit diajak fokus, mendapatkan dua fakta mengejutkan yang baru saja diterimanya.
“Nggak nyangka ternyata Bu Rianti sudah punya suami, dan kebetulan banget jadi dokter jantung yang akan mengobati Kiara. Kebetulan banget ya?”
Alifa masih terdiam, ia mendengar dengan jelas ucapan Rama hanya saja sulit untuk mengekspresikan pendapatnya. Entah kebetulan yang akan berdampak baik atau justru sebaliknya.
“Kebetulan macam apa? Skenario apa lagi ini? Kehidupan macam apa ini?” Ucapnya sambil mengusap wajahnya sendiri.
“Apa?”
Beruntung Rama tidak mendengar dengan jelas.
“Nggak apa-apa, aku laper banget. Ayo, kita makan.”
Alifa nyaris tertawa terbahak-bahak saat meertawaka hidupnya dimana ia kembali bertemu dengan mantan suami, yang ternyata akan menjadi penolong Kiara. Padahal dulu, lelaki itulah yang menginginkan kematian Kiara dengan menggugurkannya. Tapi takdir justru kembali mempertemukan mereka kembali dalam situasi dan kondisi yang sangat berbeda.
Satu hari berlalu dengan cepat, Alifa benar-benar hanya menghabiskan waktu di dalam kamar. Usai makan malam bersama Rama kemarin, tiba-tiba saja ia diserang demam, dan penyakit lambungnya kumat. Alifa terpaksa cuti , tidak bisa beraktivitas dengan normal.
“Sudah mendingan?” Ijal datang menghampirinya di kamar, membawa secangkir teh hangat.
“Lumayan” balasnya, menghela lemah lantas.
“Kamu kenapa?” Ijal menatap Alifa khawatir.
“Cuti berkedok sakit,” Alifa terkekeh pelan
Demam dan sakit lambungnya sudah membaik, obat-obatan yang dikonsumsi nya lumayan manjur
.Sebenarnya ia pun tidak ingin berada dalam kondisi lemah seperti saat ini, tapi ternyata tubuhnya tidak sekuat yang dibayangkan, mengkonsumsi makanan pedas lengkap dengan kopi nyatanya sudah memperparah kondisi lambungnya saat ini.
“Aku belum menemukan dokter pengganti, sepertinya akan sulit mencari dokter yang spesifikasi nya mirip atau jauh lebih baik dari dokter Andri dan dia. Mereka sudah sangat berpengalaman dan memiliki jam terbang tinggi, kalau ada pasti di bawah mereka.”
Alifa sudah tahu, karena selama ini dokter Andri adalah yang paling baik, untuk mencari yang lebih dari dia tentu saja sulit.
“Nggak apa-apa, mungkin nanti kita akan mendapatkannya di tempat lain.” Alifa masih optimis dapat menemukan dokter pengganti
“Ada, tapi di luar negri.”
“Jangan di luar negeri, biayanya akan membengkak.”
Pertimbangan untuk tidak membawa Kiara ke luar negeri bukan karena jarak yang terlalu jauh tapi faktor utamanya adalah biaya.
Alifa menyadari kemampuan yang dimilikinya, memaksakan diri dengan melakukan pengobatan keluar negeri hanya akan sampai di tengah jalan. Kehebatan biaya benar-benar membuatnya dilema.
“Kenapa tidak, aku bisa bantu.”
Kakaknya akan mengatakan hal tersebut setiap kali Alifa butuh bantuan atau dalam keadaan sulit.
“Kamu sudah tua, Bang. Jangan mikirin kami terus, udah waktunya kamu menikah.”
Ijal sudah melewati fase emas dalam hidupnya tapi lelaki itu seolah enggan menjalin hubungan dengan lawan jenis. Dimana lelaki seusianya sudah memiliki dua anak, Ijal justru masih betah melajang. Alifa khawatir, keengganan Ijal membina rumah tangga yakni katei dirinya, karet kondisi Kiara yang belum stabil.
“Belum Nemu jodohnya aja sih, nanti juga kalau ketemu yang pas bakal nikah.”
Jawaban yang sama, setiap kali Alifa mengingat Ijal untuk mulai fokus pada kehidupan pribadi.
“Mau aku jodohkan? Sama Kinanti?”
Ijal terkekeh.
“Setelah kamu bahagia, Kiara sehat, baru aku akan menikah. Oke, nggak pake nawar-nawar lagi.” Ijal menjentikkan jari telunjuk, memukul kening Alifa hingga ia meringis kesakitan.
“Menganiayanya orang sakit dosa Bang!” keluhnya.