“Udah mendingan?” Kinanti menatap penuh selidik saat melihat Alifa duduk di ruang kerjanya setelah dia hari izin sakit. Awalnya hanya ingin cuti satu hari saja, tapi kondisinya sedikit bermasalah, asam lambung kumat diperparah dengan flu yang sampai saat ini pun belum benar-benar sembuh. Suaranya masih sumbang dan batuk-batuk.
Selain terkejut dengan pertemuan yang tidak diinginkan bertemu dengan mantan suami, juga kenyataan mengejutkan lainnya dimana Bos besar di kantornya adalah istri mantan suaminya. Hubungan yang sangat rumit.
“Udah.” Alifa mengangguk, menoleh ke arah Kinanti. Ia mengenakan masker untuk menghindari penularan flu yang diderita nya.
“Jangan lupa obatnya dibawa, diminum tepat waktu.” kinanti mengingatkan
Alifa mengangguk, menunjukkan obat yang ada di dalam tasnya.
“Anak pinter.” Kinanti mengusap puncak kepala Alifa, lantas kembali menuju meja kerjanya. Alifa hanya tersenyum melihat kelakuan temannya itu, sosok sahabat yang benar-benar perhatian padanya.
Kehidupan yang semakin membaik dari waktu ke waktu, memiliki pekerjaan yang dapat memenuhi semua kebutuhan, walaupun masih belum benar-benar mapan, tapi setidaknya Alifa tidak mengandalkan orang lain untuk kebutuhannya dan Kiara, jika dulu ia merasa begitu pesimis dengan masa depannya yang tidak tahu kemana arah dan tujuannya, kini Alifa bisa menikmati hasil jerih payahnya selama beberapa tahun terakhir. Walaupun tidak semua hal berjalan seperti keinginan, tapi Alifa tetap bersyukur atas pencapaian yang dimilikinya, dari mulai pertemanan dan finansial yang semakin membaik.
“Mbak Alifa dipanggil Bu Bos tuh! Sama Mbak Kinanti juga ya.”
Risa, rekan kerjanya memberitahu.
“Iya, makasih Risa.”
Rupanya Kinanti pun sudah bersiap, hendak menuju ruang kerja Rianti, Bos besar mereka saat ini.
“Selamat pagi Bu,” sapa Kinanti, setelah mengetuk pintu beberapa kali.
“Pagi juga, Alifa sudah sehat?” wanita cantik itu beranjak dari tempat duduknya menghampiri Alifa dan Kinanti.
“Kelihatannya masih kurang sehat.” Rianti memperhatikan wajah Alifa dengan seksama.
“Sudah membaik, Bu. Tinggal flu nya saja, saya izin pakai masker, takut nular.” balas Alifa.
“Oke, nggak apa-apa.”
Rianti mempersilahkan keduanya duduk di sofa berwarna coklat muda yang ada di dalam ruang kerja Rianti. Ruangan tersebut memang bernuansa coklat muda, sesuai warna kesukaan Rinati.
“Harus jaga kesehatan, cuaca sedang tidak baik. Di tambah banyak pekerjaan yang harus kalian selesaikan,” Rianti tersenyum jahil.
Selama Alifa libur, memang bertepatan dengan kondisi kantor yang tidak terlalu sibuk, namun beberapa proyek besar sudah menanti.
“Kamu harus sehat, Al, Ingat, kita ada proyek besar sebentar lagi.” Kinanti menambahkan.
“Kinanti benar, aku punya vitamin bagus untuk mempercepat penyembuhan. Ini bagus, coba kamu konsumsi sehari satu tablet aja, aku jamin nggak akan gampang sakit.” Rinati memberikan botol kecil berwarna putih pada Alifa.
Ia tidak langsung menerima, merasa sungkan mendapat perhatian dari Bos yang belum lama menjabat itu.
“Suamiku yang kasih, kalian sudah ketemu beberapa hari lalu, kan?”
“Oh iya, makasih Bu.” ingin menolak, namun Alifa sangat menghargai perhatian dan kebaikan Rianti. Tapi bisa dipastikan ia tidak akan mengkonsumsi vitamin tersebut, walaupun memiliki khasiat sangat baik untuk tubuhnya.
“Baiklah, kita mulai membahas topik utamanya. Untuk progres Takan hiburan sudah sampai mana?” tanya Rianti.
Kinanti sebagai kepala divisi tentu berperan penting dalam menjelaskan progres proyek saat ini. Dari iPad miliknya, Kinanti mulai menjelaskan dengan sangat detail.
“Oke, aku suka dengan progres yang sudah sangat lengkap ini. Kalian bisa langsung mengerjakannya Minggu depan, langsung ke lokasi nantinya bertemu tim kontraktor.”
“Baik, Bu.”
“Proyek taman hiburan akan menjadi tanggung jawab penuh Kinanti, tapi untuk proyek kedua akan menjadi tanggung jawab Alifa.”
“Proyek kedua? Apa Bu?”
Alifa bingung, sebagai pembahasan belum sampai proyek kedua, mengingat pembuatan taman hiburan pun bisa memakan waktu lebih dari tiga bulan, bahkan lebih tergantung kelancaran dari berbagai pihak.
“Aku sempat melihat beberapa catatan karyamu dan aku sangat tertarik dengan desain rumah yang kamu buat. Aku akan mengambilnya, tenang saja tidak gratis. Aku akan membayarnya seusai harga yang kami berikan.”
Alifa tidak ingat kapan ia membuat desain rumah yang dimaksud. “Yang mana, Bu?”
“Yang ini,” Rianti menunjukkan desain rumah yang sudah ada di layar ponselnya. Desain rumah impian Alifa, yang dirancang khusus untuk dirinya sendiri. Tapi, kenapa desain itu kini ada di tangan Rianti? Alifia tidak ingat pernah memberikan desain tersebut pada orang lain, apalagi pihak perusahaan.
“Aku tidak sengaja menemukannya di dalam file yang kamu berikan dua Minggu lalu pada Pak Ikram, aku tertarik dan langsung jatuh cinta. Aku akan membelinya dengan harga yang pantas,,”
Alifa akhirnya mengingat, mengapa desain itu ada pada Rianti.
Keteledoran yang dilakukannya beberapa Minggu lalu, saat ia menyerahkan desain taman hiburan pada Pak Ikram. Rupanya desain itu ada dalam file yang diberikannya.
“Adrian juga setuju dengan desain ini, dia menyukainya.”
“Oh,, begitu.. tapi saya,,”
“Ini proyek kedua kamu, tentu saja di luar jam kantor dan aku akan membayarnya dengan harga yang pantas. Bagaimana?”
“Terima saja, Al. Kapanlagi karya kamu di hargai mahal tanpa dilabeli selingkuh dari perusahaan.” Kinanti memberikan dukungan. Seharusnya Alifa merasa senang salah satu karyanya diminati seseorang sekelas Rinati. Hanya saja itu desain rumah impiannya, rumah yang sangat diharapkan Alifa menjadi tempat yang bisa mendatangkan kebahagiaan untuknya dan Kinanti.
Hatinya semakin tercabik-cabik saat mengetahui bahwa desain rumah tersebut diinginkan mantan suaminya, yang mungkin nantinya akan menjadi rumah impian Adrian dan Rinati.
Lelaki itu lagi-lagi merenggut impiannya, mematahkan semangatnya untuk kedua kali.
Alifa menghela lemah, berusaha memberanikan diri. Ia tidak mau mengalah untuk yang kesekian kalinya.
“Bu, begini,” ia membetulkan posisi duduknya, agar saling berhadapan.
“Kenapa? Ada masalah?” tanya Rianti.
“Bu, sepertinya saya nggak bisa menjual desain rumah itu. Maaf atas keteledoran saya, sampai file tersebut ada di tangan Ibu. Tapi itu desain untuk saya sendiri, walaupun saya nggak tahu kapan bisa mewujudkannya tapi saya sangat menyukainya.”
“Oh begitu,” Rinati nampak kecewa tapi ia tidak menunjukkannya secara langsung.
“Itu desain rumah impian Alifa, tapi Ibu bisa minta dibuatkan yang baru, yang sesuai dengan keinginan Ibu dan suami.” Kinanti memberikan saran.
Saran yang sebenarnya tidak disukai Alifa.
Ia sangat berharap tidak terlibat apapun lagi dengan keduanya, kecuali masalah pekerjaan. Di luar itu, Alifa benar-benar ingin menghindari.
Rianti nampak berpikir,hingga akhirnya ia mengangguk dengan senyuman.
“Boleh juga tuh! Saya setuju dengan saran Kinanti. Bagaimana kalau kamu buatkan desain rumah baru untuk saya?”
“Boleh, tapi saya nggak bisa terburu-buru karena ada pekerjaan lain dan juga kepentingan di luar jam kerja. Saya sudah punya anak dan,,”
“Saya ngerti. Nggak harus buru-buru kok. Kamu bisa mengerjakannya dengan santai, di sela waktu luang saja.”
“Oh iya, baiklah kalau begitu.”
“Jangan dibuat ribet, kamu masih bisa fokus.pada pekerjaan dan juga keluarga. Santai saja.”
Alifa hendak kembali beralasan, menolak secara halus tapi Rianti sudah terlebih dulu beranjak dari tempat duduknya, yang artinya kesepakatan sudah terjalin.
“Sial!” umpatnya pelan.