Kopi hitam menjadi salah satu minuman favorit Alifa saat ini ditengah gempuran minuman manis yang semakin merajalela dengan beraneka ragam, ia tetap jatuh cinta pada si hitam pahit. Pekat yang pahit. Alifa tidak ingat kapan terakhir kali membeli minuman manis, Ia sudah meninggalkan semua varian kopi yang manis sejak… entahlah, mungkin sejak ia kehilangan berbagai hal yang manis dalam hidupnya.
Alifa menghembuskan nafas perlahan, masih terlalu pagi untuk sebuah kenangan pahit hidupnya.
“Al” suara nyaring yang sudah sangat familiar di telinga terdengar. Saat menoleh, ia melihat Kinanti, Rama dan Risa datang dari arah pintu masuk cafe.
“Kopi hitam lagi?” Kinanti menatap tidak suka ke arah gelas plastik yang ada di tangan Kinanti. Isinya nyaris habis, hanya tinggal satu kali teguk saja.
“Udah makan kok, nih roti” Alifa menunjuk ke arah bungkus roti.
“Untuk hari ini sudah cukup ya, jangan beli lagi kopi hitam tanpa gula.” Rama mengambil gelas plastik, minum sisa kopi milik Alifa.
Kejadian beberapa waktu lalu, Alifa sempat muntah-muntah setelah menghabiskan dua gelas kopi dalam rentang waktu yang berdekatan, sinyal dari tubuh Alifa bahwa lambungnya sudah tidak dapat mentolerir minuman berkafein itu terlalu banyak, sebenarnya bukan hanya lambung yang bermasalah, hatinya pun ikut bermasalah.
“Mau sarapan dulu nggak, masih ada waktu lima belas menit lagi.” tanya Alifa pada ketiga temannya.
“Sarapan di lokasi aja, perjalanan kita cukup jauh, takut keduluan Bu Rinati.” balas Kinanti.
“Baiklah. Ayo, kita berangkat.”
Masih sangat pagi, sekitar pukul tujuh tapi mereka berempat harus segera menuju lokasi proyek taman hiburan. Hari dimana mereka akan bertemu dengan pihak konstruksi untuk membahas proses pembangunan taman hiburan.
“Musim hujan,,.” Kinanti menatap langit yang kembali menghitam, mendung.
Kinanti memang tidak menyukai musik hujan, sudah beberapa kali mengeluhkankan cuaca yang masih saja turun hujan padahal seharusnya masuk musim kemarau.
“Musim hujan enak tidur, Kin?” Rama tersenyum jahil.
“Pulang kehujanan dan pakaian nggak kering, kalau soal tidur hujan atau nggak enak aja sih kata gue mah.”
Entah alasan apa yang membuat Kinanti tidak menyukai hujan, diam-diam Alifa pun menghela lemah mengingat kenangan tentang hujan yang selalu berhasil membuatnya harus menarik nafas panjang dan dalam untuk mengusir rasa panas di mata. Sesak yang tak pernah sampai menjelma tangis, namun selalu berhasil melemparkannya pada ingatan yang akan membuat Aalifa memegang d**a.
“Al, kamu baik-baik aja?”
Kinanti adalah pengamat yang baik, sekecil apapun perubahan yang terjadi pada diri Alifa, berhasil disadarinya.
“Akhir-akhir ini Mbak Al keliatan nggak bersemangat.” Risa pun ikut menatap ke arah Alifa, memperhatikan raut wajahnya.
“Masa sih?” Alifa menepuk pelan wajahnya, tersenyum samar meyakinkan bahwa kondisinya baik-baik saja.
“Capek aja mungkin, akhir-akhir ini banyak banget kerjaan.” Rama pun tidak ingin kalah, ia memperhatikan Alifa dengan tatapan lembut.
“Dengar-dengar si Bos juga minta dibuatkan desain rumah ya? Wah,, job besar tuh. Kamu bisa minta bayaran tinggi,” Rama menggodanya.
Alifa menyukai pekerjaannya, selama ini ia selalu menyibukkan diri dengan bekerja. Alifa cerminan karyawan yang melakukan pekerjaannya dengan baik, meminimalisir kesalahan yang terjadi sampai tubuhnya merasa lelah dan begitu sampai ke rumah yang perlu dilakukan hanyalah tidur bersama malaikat kecilnya. Kerap dianggap gila, padahal Alifa memang sengaja melakukannya, membuat tubuh dan pikirannya lelah.
Hanya saja alurnya saat ini tiba-tiba berubah, dimana pekerjaan yang selalu dianggap mampu mengalihkan perhatian, justru seolah kembali menguak luka lama, mendorongnya kembali pada kisah masa lalu yang belum benar-benar selesai. Mengorek luka lama hingga Alifa hafal setiap gores luka yang dirasakannya dulu, menjadi dilema besar dalam hidupnya, dimana ia ada di tengah-tengah situasi yang menjebaknya.
“Mungkin asam lambungnya kumat.”
Penyakit asam lambung yang sudah menjadi rahasia umum, tapi sampai detik ini Alifa masih belum mau mengurangi kebiasaannya mengkonsumsi kopi dan kerap melewatkan jam makan.
“Iya, nanti sekalian cek kesehatan Kiara.”
“Besok aja. Kita nggak ada jadwal kan?” tanya Kinanti. “Udah lama juga nggak main bareng Kiara.”
Alifa mengangguk setuju, “Iya boleh, besok aja.”
“Aku ikut, boleh kan?” Rama selalu ingin melibatkan diri, menatap penuh harap ke arah Alifa dan Kinanti.
“Boleh.”
Lelaki itu tersenyum dengan raut bahagia.
Beruntung tim sampai terlebih dulu sebelum Rinati datang. Bos besar itu memang terkenal dengan kebaikannya, tapi juga dengan disiplin dan tepat waktunya. Hanya selang beberapa menit saja setelah tim sampai, Rianti pun tiba.
Meninjau lokasi outdoor dengan cuaca yang tidak menentu, Rianti tetap terlihat stunning. Dari ujung kaki hingga ujung kepala, wanita itu terlihat modis dan cantik.
Berbanding terbalik dengan penampilan Alifa yang terkesan biasa saja, hanya mengenakan setelan kantor dengan flat shoes yang selalu menjadi andalannya. Alifa tidak terbiasa memakai sepatu yang dianggap dapat mempercantik penampilan wanita, tubuhnya tidak didesain untuk itu karena setiap kali memaksakan diri untuk mengenakannya, ia akan kesakitan di bagian pinggang dan kakinya. Pasca operasi Caesar pun menjadi salah satu kendala, dimana ia mudah sekali merasakan lelah dan sakit-sakitan di beberapa titik tubuhnya.
Nyaris dua jam berada di lokasi, untungnya cuaca tidak terlalu panas bahkan terkesan mendung. Tim berkoordinasi dengan pihak kontraktor untuk kelangsungan proyek, beruntung semua tim yang terlibat sudah sangat profesional dalam bekerja hingga memudahkan setiap jalan prosesnya.
“Semoga tidak ada kendala, supaya proyek ini berjalan dengan lancar dan tepat waktu.” ucap Rianti.
“Baik, Bu.” jawaban serempak.
Masih menunggu beberapa jam lagi sampai tim akan kembali ke kantor, memastikan setiap hal besar sampai kecil terlebih dahulu meminimalisir kesalahan yang mungkin bisa saja terjadi. Kini mereka ada di dalam satu tim yang sama.
“Kamu dimana? Aku ada di lokasi proyek, ternyata jalannya becek dan aku pakai hills,” Rianti tengah menghubungi seseorang, mengeluhkan kondisi sepatunya yang tidak sesuai dengan kondisi lapangan.
“Mau antar sepatu? Benarkah? Makasih banyak sayang. Datang saja, aku tunggu.” Raut wajahnya terlihat bahagia, bahkan tidak segan menunjukkan sisi manja yang ada dalam dirinya.
Alifa sudah tahu siapa yang dihubungi Rianti, pasti Adrian.
Kenapa dalam situasi seperti ini pun mereka harus bertemu?
Apakah dunia ini terlalu kecil untuk mereka berdua? Sampai terus bertemu dalam sebuah kebetulan yang tidak diduga.