Bab 9. Dia anakku

1241 Kata
“Kamu nggak apa-apa, Al?” Kinanti melihat wajah Alifa pucat pasi. “Perutnya nggak enak,” padahal Alifa sudah minum obat setelah sarapan tadi, tapi tiba-tiba perih dan Mual kembali menyerang di ulu hatinya. Tubuhnya bergetar hebat menahan gejolak dalam perut yang ingin segera dikeluarkan. “Aku mau kebelakang dulu,” Alifa tidak bisa menahannya lagi, berjalan sempoyongan, bergegas menuju kamar mandi yang ada di lokasi. Ia membuka salah satu bilik kamar mandi dan memuntahkan isi perutnya. Berulang kali ia memuntahkan isi perutnya hingga merasa lemas dan pusing. Nyaris saja ia terjatuh, jika seseorang tidak menahannya dari belakangnya. “Kamu baik-baik saja?” Suara yang begitu familiar itu menusuk indra pendengaran. Alifa segera menoleh untuk memastikan, takut jika hanya salah dengar saja. Tapi ternyata sosok itu sudah berdiri tepat di belakang, memegangi satu tangan dimana tubuhnya nyaris terjatuh akibat lemas. Adrian, kapan lelaki itu datang? “Aku baik-baik saja!” Ia segera menepis tangan lelaki itu, yang tengah menggenggam erat tangannya. “Kamu sakit?” tanya Adrian. “Tidak.” Alifa berusaha mengembalikan keseimbangan tubuhnya, dengan berpegang pada dinding. Adrian menatap wajah Alifa yang terlihat begitu pucat. Tidak nyaman berada di dekat lelaki itu, Alifa pun segera mengusap wajahnya dengan kedua tangan lantas bergegas kembali menuju rekannya berada. Begitu juga yang dilakukan Adrian, kedatangannya untuk mengantarkan sepatu milik Rianti, namun saat memasuki area proyek, Adrian melihat sosok Alifa berjalan cepat menuju kamar mandi. Seharusnya ia berpura-pura tidak melihat wanita itu, tapi reaksi tubuhnya justru berkhianat. Ia mengikuti langkah Alifa menuju toilet dan melihat bagaimana wanita itu menahan sakit yang mungkin tengah dirasakannya hari ini. “Al, kamu kenapa?” Rama dan Kinanti langsung mendekat, khawatir melihat Alifa seperti itu. Wajahnya pucat dan terlihat lemas. Tidak lama setelah Alifa kembali, Adrian pun muncul. “Sayang, kenapa muncul dari arah belakang?” Rinati segera menghampiri. “Salah jalan.” balas Adrian, sambil memberikan tas jinjing berisi sepatu milik Rianti. “Anak buahku sakit, kamu bisa periksa dia sebentar? Kasihan dia,,” bujuk Rianti. “Nggak usah, Bu.” Alifa segera menolak. “Hanya asam lambung naik aja, saya udah bawa obat-obatan di kantor.” “Nggak apa-apa, periksa saja. Kayaknya bukan asam lambung biasa deh, kondisi kamu sudah seperti ini.” Rinati prihatin dengan kondisi Alifa. “Sepertinya kondisinya cukup serius, bagaimana kalau aku bawa dia ke rumah sakit saja. Pekerjaan hari ini sudah selesai, kan?” Tiba-tiba Adrian menyarankan. “Boleh. Untuk hari ini kita lanjutkan di kantor saja, Kinanti, Rama dan Risa kembali ke kantor dan untuk Alifa cukup setengah hari saja” “Iya, Al. Kamu ikut dokter Adrian aja dulu, periksa badan kamu. Jangan ngeyel.” Kinanti juga memberikan saran. “Benar, periksakan tubuh kamu dengan benar, jangan terlalu keras sama diri sendiri.” “Tapi, aku nggak apa-apa.” Alifa masih berusaha terlihat baik-baik saja, enggan mengikuti saran Adrian yang juga didukung teman-temannya. “Aku hanya sakit biasa.” “Sakit biasa tapi pucat kayak orang mau mati, Al. Udah ikut sana!” Alifia hendak kembali menolak, ia benar-benar tidak ingin berada dalam satu ruang yang sama dengan mantan suaminya. Namun sepertinya penolakan Alifa tidak digubris teman bahkan bos nya, mereka meninggalkan Alifa bersama Adrian berdua saja. “Hanya asam lambung?” Adrian menatap sinis. “Bukan urusan kamu,” balas Alifa tak kalah sengit. “Aku bisa ke rumah sakit sendiri, di jakarta ini ada banyak dokter dan rumah sakit terkenal, kamu bisa pergi tanpa aku.” Alifa tidak akan menuruti saran Adrian, lebih baik mencari dokter dan rumah sakit lain daripada harus ikut bersama Adrian. “Aku Dokter,” “Aku tau!” Alifa menatap tajam, “Tapi aku menolak diperiksa olehmu dan aku memiliki hak untuk mencari dokter sendiri.” Alifa berjalan menjauh, lebih baik menghindar dan tidak berurusan dengan lelaki itu apapun alasannya. Ia akan tetap memeriksakan diri hari ini, karena merasa sakit di perutnya bukan hanya asam lambung biasa, mungkin sudah sampai tahap lebih serius. Alifa terang-terangan menolak, tapi Adrian tidak bisa mengabaikannya begitu saja. Ia mengajar Alifa, menahan satu tangannya. “Aku Dokter, jangan anggap aku mantan suamimu. Kamu harus segera diperiksa,” Adrian menggenggam erat tangan Alifa, menariknya menuju tempat dimana mobilnya berada. “Lepas! Sekarat pun aku nggak akan mau ditolong olehmu!” dengan tatapan tajam, Alifa berusaha menarik tangannya, lepas dari genggaman Adrian. Namun lelaki itu sepertinya enggan melepaskan, genggamannya semakin terasa mencengkram erat. “Ikut aku!” Adrian mengabaikan penolakan Alifa, ia mendorong tubuh. Alifa masuk kedalam mobilnya secara paksa. Dengan kondisi Alifa saat ini yang sudah mulai kehabisan tenaga akibat lemas, membuatnya tidak punya banyak tenaga untuk melawan. “Aku akan membawamu ke rumah sakit. Tolong tetap tenang,” “Sekalipun kamu berteriak dan menolak, aku akan tetap membawamu ke rumah sakit.” lanjutnya, setelah keduanya ada di dalam mobil. “Seharusnya kamu tetap bersikap acuh, seperti yang kamu lakukan dulu. Hidup dan matiku bukan tanggung jawab kamu, walaupun saat ini kamu memiliki gelar doktor.” ucap Alifa sinis, lantas menatap ke arah samping, menghindari tatapan Adrian. Nyeri dan sesak kembali datang, semakin memperparah kondisinya saat ini. Alifa memegangi perutnya yang terus bergejolak dengan nyeri dibagian d**a. “Brengsekk.” Alifa mengumpat sendiri. Adrian menarik tangan Tiara menuju ruang UGD, lebih terlihat menyeretnya dengan paksa, beberapa perawat menatap bingung ke arah mereka berdua. “Ami, tolong periksa dia!” Adrian memanggil salah satu dokter muda, yang kebetulan ada di lokasi. “Baik, Dok.” Dokter muda berparas manis itu mendekat, tersenyum lembut ke arah Alifa. “Silahkan naik ke atas ranjang, saya periksa.” Alifa terdiam, menatap sengit ke arah Adrian. Tahu keberadaannya tidak diinginkan, Adrian pun pergi. Tapi lelaki itu tidak benar-benar pergi, ia berdiri di balik tirai dimana Alifa tengah diperiksa. “Dia nggak mau diperiksa saya. Tolong dokter Ria untuk memeriksanya.” “Sakitnya sudah lama ya?” tanya dokter muda bernama Ami itu. “Lumayan lama,,” jawab Alifa ragu, sebab ia tidak tahu kapan pastinya. “Kondisinya sudah cukup parah, tolong jaga pola makan dan jangan minum kopi. Sepertinya sering menghabiskan lebih dari dua gelas kopi, kan?” Alifa hanya meringis saja, memang benar apa yang dituduhkan padanya. Ia kerap mengkonsumsi kopi lebih dari dua gelas setiap harinya. “Ada lagi yang sakit?” tanya Dokter Ami lagi. “Perut bagian bawah sering sakit dan punggung.” Alifa menyebut beberapa titik tubuhnya yang sering sakit. “Ini gejala normal pasca melahirkan secara Caesar, sakit, ngilu, pasti masih terasa. anaknya sudah berapa tahun?” “Sebentar lagi enam tahun,” “Kalau masih sering nyeri dan sakit ada kemungkinan proses penyembuhannya lambat, bisa jadi karena faktor tubuh itu sendiri karena setiap manusia memiliki kapasitas sakit yang berbeda.” “Saya sempat mengalami koma pasca melahirkan, lima atau empat hari, proses penyembuhannya juga sangat lambat apa itu normal?” “Bisa melakukan pemeriksaan lebih lanjut kalau mau,” “Oh,, begitu.” “Saya tetap menyarankan untuk segera mungkin melakukan pemeriksaan agar bisa diketahui penyebabnya dan bisa segera diobati.” Alifa hanya mengangguk. “Pemeriksaan selesai, saya akan meresepkan obat dan tunggu disini sampai saya kembali.” Alifa mengangguk patuh pada perintah dokter Ami. Kepergian Dokter Ami disusul dengan kembalinya Adrian. Lelaki itu pasti mendengar semua obrolan Alifa dan dokter Ami. “Kamu melahirkan anak kita? Kamu berhasil melahirkannya?” tanya Adrian dengan ekspresi yang sulit dijelaskan. “Kiara anakku?” “Aku memang pernah melahirkan, aku juga memiliki anak, tapi perlu kamu tahu, aku tidak pernah melahirkan anakmu! Kiara bukan anakmu!”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN