Siapa sangka, langkah Alifa terhenti tepat di anak tangga terakhir. Sosok itu berdiri di depan pintu utama, seolah sudah menunggu cukup lama. Posturnya sedikit membungkuk, wajahnya pucat, namun tetap memaksakan senyum—senyum yang terlalu sendu untuk disebut baik-baik saja. Alifa menelan ludah. “Adrian…” suaranya nyaris tak terdengar, lebih seperti gumaman yang lolos begitu saja. Lelaki itu mengangkat wajah. Tatapan mereka bertemu. Ada sesuatu yang langsung runtuh di d**a Alifa—perasaan yang tak sempat ia beri nama. “Kamu sudah pulang kerja?” tanya Adrian pelan, seolah takut suaranya akan memecah jarak rapuh di antara mereka. Alifa mengangguk, lalu refleks merapatkan tas ke dadanya. “Iya. Kamu… ngapain di sini?” Adrian tersenyum tipis. Senyum yang tidak sampai ke matanya. “Menunggu

