Bab 63

1830 Kata

“Bundaa… kapan kita jalan-jalan?” Rengekan bernada penagihan janji itu kembali terdengar, nyaris setiap hari, seperti alarm yang tak pernah lupa mengingatkan. Suara kecil itu melengking manja dari ambang pintu kamar, membuat Alifa yang tengah menata tumpukan berkas di meja rias terdiam sesaat. Perlahan ia menoleh. Kiara berdiri di sana, masih dengan piyama bergambar kelinci kesayangannya, rambutnya sedikit kusut, matanya berbinar penuh harap. Tatapan yang selalu membuat hati Alifa melembut, sekaligus terasa perih oleh rasa bersalah yang menyesak. Sudah sebulan lamanya janji itu tertunda. Bukan karena Alifa lupa. Bukan pula karena ia tak ingin menepatinya. Namun hidup, dengan segala kerumitan dan tuntutannya, seolah bersekongkol membuat semua rencana indah itu terus tertunda. “Sayan

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN