Langkah Adrian terhenti tepat di ambang pintu. “Aku tidur di luar, kamu pasti nggak nyaman.” ucapnya dengan senyum samar. Tangannya yang menggenggam selimut mengendur sedikit, seolah ragu. Ada jeda yang canggung, sunyi yang menyesakkan, sebelum akhirnya ia benar-benar melangkah pergi setelah anggukan Alifa dianggap jawaban. Pintu kamar tertutup pelan. Bukan dibanting, bukan pula ditutup dengan kesal—hanya sebuah penutupan lembut yang justru terasa lebih menyakitkan. Alifa menatap beberapa detik, menatap daun pintu itu seakan masih bisa melihat bayangan lelaki yang baru saja keluar. Dadanya terasa sesak, bukan karena cinta yang kembali tumbuh, melainkan oleh kenangan yang berjejal tak memberi ruang bernapas. Ia duduk di tepi ranjang, mengusap wajah lelahnya. Kenapa rasanya jadi seper

