“Duduk di sini, aku pengen ngobrol sama Kamu.” Alifa menurut. Ia duduk di samping Adrian, tapi tetap menjaga jarak. Tidak terlalu dekat, tidak pula terlalu jauh. Posisi yang aman—setidaknya bagi hatinya sendiri. Adrian melirik sekilas, menangkap gestur kecil itu. Ada senyum tipis yang muncul di sudut bibirnya, getir dan penuh makna. “Kenapa selalu jaga jarak?” tanyanya pelan, suaranya nyaris tenggelam oleh desir angin malam. Alifa terdiam. Jemarinya saling bertaut di atas paha, menahan gelisah. “Karena jarak itu perlu,” jawabnya akhirnya. “Biar nggak kebablasan.” Adrian terkekeh kecil, lalu menghela nafas panjang. Ia menatap lurus ke depan, ke arah langit yang gelap tanpa bintang. “Kita ini lucu, ya. Duduk sedekat ini, tapi tetap merasa jauh.” Alifa menelan ludah. Ada perih yang s

