Beberapa minggu setelah konflik mereka berakhir, kehidupan Greta dan Novan terasa seperti pagi yang baru: masih lembut, masih berembun, dan penuh kemungkinan indah yang belum disentuh. Hari itu, Greta sedang sibuk di dapur membuat sarapan. Ia memotong buah, mengaduk adonan pancake, sambil bersenandung kecil. Ada sesuatu dalam dirinya yang berubah: ia lebih ringan, lebih bebas, dan lebih bahagia. Novan berdiri di pintu dapur, bersandar sambil melipat tangan di d**a. Ia tersenyum melihat pemandangan itu—Greta, rambutnya diikat naik asal, memakai kaus kebesaran miliknya, dan bernyanyi seperti dunia hanya milik mereka berdua. “Kalau aku mati nanti, aku mau mati di saat kayak gini,” kata Novan dramatis. Greta melotot. “Apaan sih?!” Novan tertawa, mendekatinya lalu memeluk dari belakang. “M

