Hansen dan Piere masih berdiri di halaman rumah, tatapan mereka sama-sama dipenuhi emosi yang belum menemukan tempat untuk meledak. Di dalam, Greta memegangi lengan Novan, takut pria itu kembali maju dan membuat keadaan semakin sulit. Nadiva memandang semuanya dengan tatapan penuh kemenangan. Ia menahan perutnya sambil menyeruakkan senyum dingin—seolah seluruh kekacauan itu adalah musik yang menyenangkan baginya. Aldo berdiri setengah langkah di belakang Nadiva, wajahnya datar. Tapi matanya… selalu mengikuti Nadiva, tidak pernah berpaling sedikit pun. Bukan dalam posisi mendukung—melainkan posesif. Greta tahu itu. Novan tahu itu. Tapi Hansen dan Piere… sama sekali tidak. “GRETA, KAMU HAMIL!” Hansen mengulang tuduhan itu, suaranya retak. Di pipinya tampak urat-urat menegang, seakan

