Husniah dan Syifa sedang menemani si kembar yang hendak tidur. Aku dan Winsu yang baru pulang dari masjid untuk shalat tarawih, memilih untuk berbincang-bincang di teras rumah. Waktu baru menunjukkan jam setengah sembilan malam, jadi masih terlalu sore untuk tidur. Berbincang dengan Wisnu adalah pilihan yang terbaik, kami hampir tidak pernah berbicara berdua saja. Kalaupun berbicara dengannya saat bersama Hunsiah dan Syifa, pasti akan berakhir dengan perdebatan. "Apa kamu masih suka menyakiti, Nia?" tanya Winsu membuka percakapan. Astaga, pertanyaan macam apa itu. Dia masih saja curiga padaku. Apa aku ini terlihat masih belum berubah, aku sudah berubah seratus delapan puluh derajat. Sangat-sangat mencintai istriku, apa lagi sekarang ada anak-anak kami. "Apa aku masih terlihat seperti su

