Setelah meminta izin pada Mama dan Papa, malam itu juga Mario membawaku terbang ke NewYork. Mungkin aku dinilai tak punya hati lantaran pergi di saat Abs membutuhkan dukungan dari seluruh keluarga. Namun, ini keputusan terbaik menurutku. Aku lebih baik menjauh dari semua yang berhubungan dengan Abs untuk sementara waktu. Setelah melewati penerbangan dengan jet pribadi yang melelahkan selama lebih dari dua puluh jam dan mengalami jetlag, akhirnya kami menginjakkan kaki di Manhattan, salah satu kota bagian atau borough di kota New York. Semuanya tampak asing bagiku karena aku baru pertama kali mengunjungi kota ini. Dua tahun yang lalu saat seluruh keluargaku berlibur ke kota dengan julukan Big Apple ini, aku dan Mama justru memilih tinggal di rumah. Bagiku dan Mama, lebih baik tinggal di r

