“Kenapa kamu tidak menggunakan pengaman setiap kali kita melakukan hal ini?” tanyaku dengan lancang sambil menarik selimut untuk menutupi tubuh telanjangku yang terekspos, lalu aku duduk bersandar ke punggung ranjang. Mario yang masih berbaring dengan posisi menyamping dan menyangga kepala dengan tangan yang ditekuk menatapku. Bukan tatapan manis seperti harapanku, melainkan tatapan setengah kesal. Mungkin. Aku tidak bisa menyimpulkan lebih dari itu. “Kenapa aku harus menggunakan pengaman saat memenuhi kewajibanku sebagai suami kepada istriku sendiri?” Mario justru balik bertanya. “Kamu ingin aku cepat hamil?” “Kamu tidak mau mengandung anakku?” Aku tersentak mendengar pertanyaan kedua Mario. Apakah dia sedang menuduhku lagi atau dia sedang ketakutan? Honestly, akulah sebenarnya ya

