Di tengah gelombang gairah yang kian menerjang, seluruh hasratku dan Mario dipaksa karam oleh dering telepon. Dengan sangat terpaksa, perebutan oksigen dan perlombaan menyuarakan desahan harus berakhir. Telepon terus berdering tak henti-henti sampai Mario mengangkatnya. Sambil membenahi pakaian dan rambutku yang acak-acakan, aku menunggu Mario yang tengah berbicara dengan seseorang melalui sambungan telepon. Dan ketika Mario kembali, aku melihat perubahan drastis di wajahnya, begitupun di matanya yang tidak lagi memancarkan kecerahan. Debaran di dadaku kian menggema meskipun aku tidak tahu kabar apa yang disampaikan si penelepon tadi. Aku menunggu dengan was-was apa yang akan dikatakannya. “Rissa ....” Mario menggenggam tanganku. Pandangannya memancarkan sesuatu yang sulit diartikan. Ent

